Tampilkan postingan dengan label IPS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IPS. Tampilkan semua postingan

11.28.2008

Pelaku Ekomoni


PELAKU EKONOMI

A. Pengertian Pelaku Ekonomi
Dalam melakukan kegiatan ekonomi, pelaku ekonomi melakukan 2 kegiatan pokok yaitu :
1. memenuhi kebutuhan (konsumsi)
2. membuat alat pemenuh kebutuhan (produksi)

Alat pemenuh kebutuhan dihasilkan melalui serangkaian proses produksi yg membutuhkan faktor produksi.

Faktor produksi antara lain :
• Modal
• Tenaga kerja (SDM)
• Keterampilan

B. Pelaku Ekonomi di Indonesia
1. Rumah tangga keluarga & Masyarakat
Rumah tangga keluarga & masyarakat sebagai pelaku ekonomi, bukan sekedar pemenuhan kebutuhan pokoknya (makan, minum, pakaian) tetapi juga pendidikan & kesehatan.
Rumah tangga keluarga & masyarakat selain sebagai pemakai barang/ jasa juga berperan sebagai penyedia faktor produksi yg dibutuhkan perusahaan.
Rumah tangga keluarga & masyarakat perlu melakukan beberapa kegiatan sbb :
• Bekerja sendiri
• Bekerja untuk pihak lain
• Bekerja sama dengan pihak lain

2. Perusahaan Swasta dan Negara
• Perusahaan Swasta / Badan Usaha Milik Swasta (BUMS)
• Perusahaan Negara / Badan Usaha Milik Negara (BUMN)
Berdasarkan UU Nomor 9 tahun 1969, ada 3 macam BUMN yaitu :
 Perusahaan Jawatan
 Perusahaan Umum (Perum)
 Perseroan Terbatas (PT)
• Perusahaan Daerah / Badan Usaha Milik Daerah (BUMD)

3. Koperasi
• Fungsi dan peran koperasi
• Prinsip Koperasi
• Perangat koperasi
• Modal koperasi
 Modal sendiri
 Simpanan pokok
 Simpanan wajib
 Simpanan sukarela
 Dana cadangan
 Hibah
 Modal Pinjaman
 Koperasi lainnya
 Bank & lembagas keuangan
 Pinjaman dari anggota

Peran pemerintah dalam kegiatan ekonomi di Indonesia :
1. Pembuat & Pelaksana aturan
2. penjamin persaingan yang sehat
3. Penyedia Barang Publik


Pelaku Ekonomi : Pihak2 yg berperan dalam kegiatan ekonomi dalam upaya pemenuhaan kebutuhan sebagai pelaku produksi atau konsumsi.

Bekerja sendiri Melakukan usaha sendiri sebagai wirausaha (buka warung, usaha jahitan dirumah dll)

Bekerja untuk pihak lain Jadi pegawai negri atau pegawai swasta
Bekerja sama dengan pihak lain Dengan tujuan agar usaha lebih berkembang (mengajukan pinjaman kepada bank atau perusahaan lain)

Perusahaan Jawatan Perusahaan yg seluruh modalnya berasal dari anggaran negara yg dikelola menurut aturan penyelenggaraan anggaran negara & kegiatan nya langsung menyangkut kepentingan umum (RRI, RS Cipto Mangunkusumo /RSCM)

Perum Perusahaan yang sebagian besar modalnya berasal darai saham pemerintah & pengelolaannya sesuai dengan tata cara perusahaan & kegiatannya ditujukan u kepentingan umum (Badan urusan logistik/BULOG, Perum Perumahan Nasional, Perum Jasa Tirta dll)

PT Perusahaan dengan modal pemerintah yg pengelolaannya = perusahaan swasta. Saham > 51% harus dikuasai oleh pemerintah & bertujuan mengejar keuntungan (PT. BNI Tbk, PT. Kimia Farma Tbk, PT. Tambang Timah Tbk, PT Aneka Tambang Tbk dll)



Perusahaan Swasta / Badan Usaha Milik Swasta (BUMS)

Perusahaan Swasta / Badan Usaha Milik Swasta (BUMS)melakukan kegiatan produksi, distribusi dan konsumsi sbb :
1. Sebagai pelaku produksi : mengolah bahan baku menjadi barang jadi atau ½ jadi.
2. Sebagai pelaku distribusi : melakukan proses penyampaian hasil produksi kepada konsumen
3. Sebagai pelaku konsumsi : membayar tenaga kerja, menyewa mesin atau gedung atau membeli bahan baku.

Peran stategis BUMS :
1. Mitra usaha pemerintah/ koperasi
2. Membantu pemerintah menggali potensi ekonomi yang belum dilakukan oleh pemerintah.
3. Membantu perekonomian nasional
4. Menambah penjadapatan negara melalui pajak
5. Membuka lapangan kerja

Perusahaan Swasta / Badan Usaha Milik Negara (BUMN)

Maksud & Tujuan mendirikan PT adalah untuk :
• menyediakan barang dan jasa yg bermutu tinggi
• berdaya saing kuat
• mengejar keuntungan dan meningkatkan nilai perusahaan

Mengingat peranan & kegiatan BUMN dlm pencapaian tujuan culup luas, maka dalam melaksanakan kegiatannya, BUMN tidak boleh mendesak apalagi mematikan sektor swasta & koperasi.

Ciri-ciri BUMN :
• Pemerintah memegang hak atas segala kekayaan dan usaha
• Pemerintah berkedudukan sebagai pemegang saham dalam pemodalan perusahaan
• Pemerintah memiliki wewenang dan kekuasaan dalam menetapkan kebijakan perusahaan
• Pengawasan dilakukan alat pelengkap negara yang berwenang
• Melayani kepentingan umum, selain mencari keuntungan
• Sebagai stabillisator perekonomian dalam rangka menyejahterakan rakyat
• Sebagai sumber pemasukan negara
• Seluruh atau sebagian besar modalnya milik negara
• Modalnya dapat berupa saham atau obligasi bagi perusahaan yang go public
• Dapat menghimpun dana dari pihak lain, baik berupa bank maupun nonbank
• Direksi bertanggung jawab penuh atas BUMN, dan mewakili BUMN di pengadilan
Tujuan Pendirian BUMN:
• Memberikan sumbangsih pada perekonomian nasional dan penerimaan kas negara
• Mengejar dan mencari keuntungan
• Pemenuhan hajat hidup orang banyak
• Perintis kegiatan-kegiatan usaha
• Memberikan bantuan dan perlindungan pada usaha kecil dan lemah
Contoh-contoh BUMN :
Perbankan
• PT Bank Ekspor Indonesia
• PT Bank Mandiri Tbk
• PT Bank Negara Indonesia Tbk
• PT Bank Rakyat Indonesia Tbk
• PT Bank Tabungan Negara
Asuransi
• PT ASABRI
• PT Asuransi Ekspor Indonesia
• PT Asuransi Jasa Indonesia
• PT Asuransi Jasa Raharja
• PT Asuransi Jiwasraya
• PT Asuransi Kesehatan Indonesia
• PT Jamsostek
• PT Reasuransi Umum Indonesia
• PT Taspen
Jasa Pembiayaan
• Perum Pegadaian
• Perum Sarana Pengembangan Usaha
• PT Danareksa
• PT Kliring Berjangka Indonesia
• PT PANN Multi Finance
• PT Permodalan Nasional Madani
Jasa Konstruksi
• Perum Pengembangan Perumahan Nasional
• PT Adhi Karya Tbk
• PT Brantas Abipraya
• PT Hutama Karya
• PT Istaka Karya
• PT Nindya Karya
• PT Pembangunan Perumahan
• PT Waskita Karya
• PT Wijaya Karya
Konsultan Konstruksi
• PT Bina Karya
• PT Indah Karya
• PT Indra Karya
• PT Virama Karya
• PT Yodya Karya
Penunjang Konstruksi
• PT Amarta Karya
• PT Jasa Marga
Jasa Penilai
• PT Biro Klasifikasi Indonesia
• PT Sucofindo
• PT Survai Udara Penas
• PT Surveyor Indonesia
Jasa Lainnya
• Perum Jasa Tirta I
• Perum Jasa Tirta II
• PT Perusahaan Pengelola Aset
Perjan Rumah Sakit
• Perjan RS AB Harapan Kita
• Perjan RS Cipto Mangunkusumo
• Perjan RS Dr. Wahidin
• Perjan RS Fatmawati
• Perjan RS Hasan Sadikin
• Perjan RS Jantung Harapan Kita
• Perjan RS Kanker Dharmais
• Perjan RS Kariadi
• Perjan RS M. Djamil
• Perjan RS M. Husein
• Perjan RS Persahabatan
• Perjan RS Sanglah
• Perjan RS Sardjito
Film
• Perum Produksi Film Negara
Pelabuhan
• PT Pelabuhan Indonesia I
• PT Pelabuhan Indonesia II
• PT Pelabuhan Indonesia III
• PT Pelabuhan Indonesia IV
Pelayaran
• PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan
• PT Bahtera Adhiguna
• PT Djakarta Lloyd
• PT Pelayaran Nasional Indonesia
Kebandarudaraan
• PT Angkasa Pura I
• PT Angkasa Pura II
Angkutan Darat
• Perum DAMRI
• Perum PPD
• PT Kereta Api Indonesia
Logistik
• Perum Bulog
• PT Bhanda Ghara Reksa
• PT Pos Indonesia
• PT Varuna Tirta Prakasya
Perdagangan
• PT Perusahaan Perdagangan Indonesia
• PT PP Berdikari
• PT Sarinah
Pengerukan
• PT Pengerukan Indonesia
Industri Farmasi
• PT Biofarma
• PT Indofarma Tbk
• PT Kimia Farma Tbk
Pariwisata
• PT Bali Tourism & Development Corp.
• PT Hotel Indonesia Natour
• PT TWC Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko
Kawasan Industri
• PT Kawasan Berikat Nusantara
• PT Kawasan Industri Makasar
• PT Kawasan Industri Medan
• PT Kawasan Industri Wijaya Kusuma
• PT PDI Pulau Batam
Usaha Penerbangan
• PT Garuda Indonesia
• PT Merpati Nusantara Airlines
Dok dan Perkapalan
• PT Dok dan Perkapalan Kodja Bahari
• PT Dok dan Perkapalan Surabaya
• PT Industri Kapal Indonesia
Perkebunan
• PT Perkebunan Nusantara I
• PT Perkebunan Nusantara II
• PT Perkebunan Nusantara III
• PT Perkebunan Nusantara IV
• PT Perkebunan Nusantara IX
• PT Perkebunan Nusantara V
• PT Perkebunan Nusantara VI
• PT Perkebunan Nusantara VII
• PT Perkebunan Nusantara VIII
• PT Perkebunan Nusantara X
• PT Perkebunan Nusantara XI
• PT Perkebunan Nusantara XII
• PT Perkebunan Nusantara XIII
• PT Perkebunan Nusantara XIV
• PT Rajawali Nusantara Indonesia
Pertanian
• PT Pertani
• PT Sang Hyang Seri
Perikanan
• Perum Prasarana Perikanan Samudra
• PT Perikanan Samodra Besar
• PT Perikani
• PT Tirta Raya Mina
• PT Usaha Mina
Pupuk
• PT Asean Aceh Fertilizer
• PT Pupuk Sriwidjaja
Kehutanan
• Perum Perhutani
• PT Inhutani I
• PT Inhutani II
• PT Inhutani III
• PT Inhutani IV
• PT Inhutani V
Kertas
• PT Kertas Kraft Aceh
• PT Kertas Leces
Percetakan dan Penerbitan
• Perum Percetakan Negara Indonesia
• Perum Percetakan Uang RI
• PT Balai Pustaka
• PT Pradnya Paramita
Dok dan Perkapalan
• PT PAL
Pertambangan
• PT Antam Tbk
• PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk
• PT Pertamina (Persero)
• PT Sarana Karya
• PT Timah Tbk
Energi
• PT EMI (Energy Management Indonesia)
• PT Perusahaan Gas Negara Tbk
• PT PLN
Industri Berbasis Teknologi
• PT Batan Teknologi
• PT Inka
• PT Inti
• PT LEN Industri
Baja dan Konstruksi Baja
• PT Barata Indonesia
• PT Boma Bisma Indra
• PT Krakatau Steel
Telekomunikasi
• Perjan RRI
• PT Telekomunikasi Indonesia Tbk
Industri Pertahanan
• PT DAHANA
• PT PINDAD
Semen
• PT Semen Baturaja
• PT Semen Gresik Tbk
Industri Sandang
• PT Cambrics Primissima
• PT Ind. Sandang Nusantara
Aneka Industri
• PT Garam
• PT Iglas
• PT Industri Soda Indonesia

Perusahaan Swasta / Badan Usaha Milik Daerah (BUMD)

Berdasarkan UU No. 5 tahun 1962 & UU No. 6 tahun 1969 tentand Perusahaan Daerah.
Keuntungan/ laba BUMD akan memperbesar Penerimaan Asli Daerah (PAD) dan perekonomian daerah.
Seluruh modal perusahaan daerah merupakan kekayaan daerah yg dipisahkan, kecuali jika ditentukan oleh UU.
Peran Perusahaan Daerah :
• Sumber pendapatan daerah
• Membantu usaha peningkatan produksi
• Peluasan kesempatan kerja
• Pemerataan kegiatan pembangunan serta pembagian hasil2nya

Pendirian perusahaan-perusahaan daerah terdiri dari 3 jenis yaitu :
1. Perusahaan Daerah Yang didirikan langsung pemerintah daerah dengan modal yg berasal dari kekayaan daerah
2. Perusahaan Daerah yg Berasal dari eks-nasionalisasi perusahaan Belanda yg diserahkan kepada pemerintah daerah
3. Perusahaan Daerah eks-perusahaan negara yang diserahkan kepada pemerintah daerah.

Menurut kegiatan usaha kegiatannya, perusahaan daerah dapat dibedakan menjadi :
1. Perusahaan Daerah yang kegiatannya dibidang pelayanan umum yg menjadi kewajiban pemerintah
2. Perusahaan Daerah yg kegiatannya dibidang yg dianggap amat vital bagi kemanfaatan umum
3. Perusahaan Daerah yang berkegiatannya dibidang usaha komersial yg juga terbuka bagi usaha swasta.

Koperasi

Fungsi dan peran koperasi :
Menurut Undang-undang No. 25 tahun 1992 Pasal 4 dijelaskan bahwa fungsi dan peran koperasi sebagai berikut:
• Membangun dan mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosialnya;
• Berperan serta secara aktif dalam upaya mempertinggi kualitas kehidupan manusia dan masyarakat
• Memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan ketahanan perekonomian nasional dengan koperasi sebagai soko-gurunya
• Berusaha untuk mewujudkan dan mengembangkan perekonomian nasional, yang merupakan usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan dan demokrasi ekonomi


Prinsip Koperasi :

Menurut UU No. 25 tahun 1992 Pasal 5 disebutkan prinsip koperasi, yaitu:
• Keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka
• Pengelolaan dilakukan secara demokratis
• Pembagian Sisa Hasil Usaha (SHU) dilakukan secara adil sebanding dengan besarnya jasa usaha masing-masing anggota (andil anggota tersebut dalam koperasi)
• Pemberian balas jasa yang terbatas terhadap modal
• Kemandirian
• Pendidikan perkoprasian
• kerjasama antar koperasi


Perangkat koperasi :

1. Rapat Anggota
Rapat anggota adalah wadah aspirasi anggota dan pemegang kekuasaan tertinggi dalam koperasi. Sebagai pemegang kekuasaan tertinggi, maka segala kebijakan yang berlaku dalam koperasi harus melewati persetujuan rapat anggota terlebih dahulu., termasuk pemilihan, pengangkatan dan pemberhentian personalia pengurus dan pengawas.

2. Pengurus
Pengurus adalah badan yang dibentuk oleh rapat anggota dan disertai dan diserahi mandat untuk melaksanakan kepemimpinan koperasi, baik dibidang organisasi maupun usaha. Anggota pengurus dipilih dari dan oleh anggota koperasi dalam rapat anggota. Dalam menjalankan tugasnya, pengurus bertanggung jawab terhadap rapat anggota. Atas persetujuan rapat anggota pengurus dapat mengangkat manajer untuk mengelola koperasi. Namun pengurus tetap bertanggung jawab pada rapat anggota.

3. Pengawas
Pengawas adalah badan yang dibentuk untuk melaksanakan pengawasan terhadap kinerja pengurus. Anggota pengawas dipilih oleh anggota koperasi di rapat anggota. Dalam pelaksanaannya, pengawas berhak mendapatkan setiap laporan pengurus, tetapi merahasiakannya kepada pihak ketiga. Pengawas bertanggung jawab kepada rapat anggota



Modal koperasi :
Seperti halnya bentuk badan usaha yang lain, untuk menjalankan kegiatan usahanya koperasi memerlukan modal. Adapun modal koperasi terdiri atas modal sendiri dan modal pinjaman.

Modal sendiri:
• Simpanan Pokok
Simpanan pokok adalah sejumlah uang yang wajib dibayarkan oleh anggota kepada koperasi pada saat masuk menjadi anggota. Simpanan pokok tidak dapat diambil kembali selama yang bersangkutan masih menjadi anggota koperasi. Simpanan pokok jumlahnya sama untuk setiap anggota.
• Simpanan Wajib
Simpanan wajib adalah jumlah simpanan tertentu yang harus dibayarkan oleh anggota kepada koperasi dalam waktu dan kesempatan tertentu, misalnya tiap bulan dengan jumlah simpanan yang sama untuk setiap bulannya. Simpanan wajib tidak dapat diambil kembali selama yang bersangkutan masih menjadi anggota koperasi.
• Dana Cadangan
Dana cadangan adalah sejumlah uang yang diperoleh dari penyisihan Sisa Hasil usaha, yang dimaksudkan untuk pemupukan modal sendiri, pembagian kepada anggota yang keluar dari keanggotaan koperasi, dan untuk menutup kerugian koperasi bila diperlukan.
• Hibah
Hibah adalah sejumlah uang atau barang modal yang dapat dinilai dengan uang yang diterima dari pihak lain yang bersifat hibah/pemberian dan tidak mengikat.

Modal pinjaman koperasi :
• Anggota dan calon anggota
• Koperasi lainnya dan/atau anggotanya yang didasari dengan perjanjian kerjasama antarkoperasi
• Bank dan lembaga keuangan lainnya yang dilakukan berdasarkan ketentuan peraturan perudang-undangan yang berlaku
• Penerbitan obligasi dan surat utang lainnya yang dilakukan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku
• Sumber lain yang sah

11.27.2008

Kelangkaan Sumber Daya & Kebutuhan Manusia


KELANGKAAN SUMBER DAYA DAN KEBUTUHAN MANUSIA

A. Kelangkaan Sumber Daya

1. Kelangkaan Sumber Daya Alam
2. Kelangkaan Sumber Daya Manusia
3. Kelangkaan Sumber Daya Modal
4. Kelangkaan Sumber Daya Pengusaha

B. Kebutuhan Manusia

1. Pengertian Kebutuhan
Jumlah dan keragaman kebutuhan manusia dipengaruhi oleh hal berikut:
a. Perkembangan zaman
b. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek)
c. Tingkat perekonomian
d. Keadaan tempat
e. Waktu Pemenuhan
f. Tingkat Pendidikan
g. Agama dan kepercayaan

2. Macam-macam Kebutuhan

a. Kebutuhan menurut tingkat intensitas atau tingkat kepentingan
  • Kebutuhan Primer
  • Kebutuhan Sekunder
  • Kebutuhan Tersier
b. Kebutuhan menurut sifat
  • Kebutuhan Jasmani
  • Kebutuhan Rohani
c. Kebutuhan menurut waktu
  • Kebutuhan saat ini
  • Kebutuhan masa datang
d. Kebutuhan menurut subject
  • Kebutuhan individu
  • Kebutuhan sosial

C. Alat Pemenuhan Kebutuhan
Kelangkaan dapat terjadi apabila terdapat keterbatasan jumlah alat pemuas kebutuhan dari jumlah kebutuhan manusia.

1. Menurut Kelangkaan
  • Barang ekonomi
  • Barang bebas
2. Menurut Hubungan dengan Barang Lain
  • Barang subsitusi (barang Pengganti)
  • Barang komplementer (barang pelengkap)
3. Menurut Wujud
  • Barang abstrak (barang tidak berwujud)
  • Barang kongkret (barang nyata / berwujud)
4. Menurut Tujuan Penggunaan
  • Barang Produksi (barang modal)
  • Barang konsumsi
5. Menurut Kwalitas
  • Barang superior
  • Barang inferior
6. Menurut Proses Pembutan
  • Barang baku atau mentah
  • Barang setengah jadi
  • Barang jadi

D. Skala Prioritas



Pemahaman

Sumber Daya Alam : Segala sesuatu yang terdapat di alam & dibawah permukaan bumi yg secara langsung atau tidak langsung bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan.
Sumber daya Alam dibedakan menjadi :
  • SDA yang dapat diperbaharui
  • SDA yg tidak dpt diperbaharui : Tanah, Air, Udara, Hutan
Sumber Daya Modal : Barang2 (sarana) yang dapat digunakan untuk menghasilkan barang lain misa : uang, bahan mentah, mesin, perkakas dll

Sumber Daya Pengusaha : Seseorang yang menyatukan ketiga sumber (sumber daya alam manusia & modal).
Orang yang mampu menyatukan ke3 nya adalah orang yg memiliki kepandaian dan modal.

Kebutuhan : Keinginan manusia, baik berupa barang atau jasa, yg dapat memberikan kepuasan bagi jasmani & rohani untuk kelangsungan hidupnya.

Kebutuhan Primer : Kebutuhan pokok yg sangat penting & harus dipenuhi agar kelangsungan hidup seseorang tdk terganggu. (pakaian, rumah, makanan & minuman)

Kebutuhan Sekunder : Kebutuhan kedua yg dapat dipenuhi apabila Kebutuhan Primer telah dipenuhi (jam tangan, pendidikan, tas dll)

Kebutuhan Tersier : Kebutuhan kedua yg dapat dipenuhi apabila Kebutuhan Primer & Sekunder telah dipenuhi (perhiasan, mobil dll)

Kebutuhan Jasmani : Kebutuhan fisik atau raga manusia (berkaitan dengan pertumbuhan & perkembangan fisik) contoh : makanan, minuman, olahraga, pakaian dll

Kebutuhan Rohani : Kebutuhan akan berbagai hal spiritual, intelektual, mental & moral (beribadah, berekreasi)

Kebutuhan saat ini : Kebutuhan yang mendesak. Misalnya minuman u seseorang yang haus, obat bagi yg sakit, makanan bagi yg lapar

Kebutuhan yang akan datang : Kebutuhan yg pemenuhannya dapat ditunda sementara karena memerlukan waktu yg cukup lama & bersifat protektif (jangka panjang) yakni untuk berjaga-jaga (menabung, tanah, deposito< asuransi dll)

Kebutuhan individu : (kebutuhan perorangan) kebutuhan yang hanya bermanfaat & diperlukan u diri sendiri. (sepatu, pakaian, buku tulis)

Kebutuhan Sosial : (kebutuhan kelompok) digunakan u kepentingan bersama (rumah sakit, jembatan, kendaraan umum dll)

Barang ekonomi : Alat pemenuhan kebutuhan manusia yg jumlahnya terbatas & u memperolehnya dibutuhkan pengorbanan berupa uang / tenaga (baju, buku tulis, sepatu dll)

Barang bebas : Alat pemenuh kebutuhan yg jumlahnya tidak terbatas dan manusia relatif mudah untuk memperolehnya, hanya tenaga (air, sinar matahari, udara dll)

Barang subsitusi (barang Pengganti) : Alat pemenuh kebutuhan yg dpt digantikan kegunaanya (payung diganti jas hujan)

Barang komplementer (barang pelengkap) : Suatu barang yg akan bermanfaat jika ditambah barang lain ( pen ditambah buku)

Barang abstrak (brg tdk berwujud) : Alat pemenuh kebutuhan yg tdk dpt di lihat, diraba akan tetapi wujudnya dapat dirasakan manfaat & kegunaannya (jasa guru, penjahit dll)

Barang kongkret (brg nyata) : Alat pemenuh kebutuhan dpt dilihat, dirasa & diraba oleh panca indera (pakaian, tas sekolah dll)

Barang Produksi (brg modal) : Barang yg dpt langsung digunakan & dimanfaatkan oleh konsumen, ada yg tahan lama, ada yg cepat habis / basi.

Barang konsumsi : Barang yg dpt digunakan u memproduksi barang2 lain (pabrik, peralatan & mesin)

Barang superior : Barang2 yg berkualitas tinggi (baju yg dijual di butik, barang dgn garansi)

Barang inferior : Barang yg berkualitas kurang baik (barang kaki 5)

Barang baku atau mentah : Barang yg blm diolah lebih lanjut (kayu, hasil tambang dll)

Barang setengah jadi : Barang yg masih perlu proses pengolahan lebih lanjut (kulit u jaket kuli, kelapa sawit u minyak goreng dll)

Barang jadi : Barang yang siap digunakan

Illegal logging : Kegiatan penebangan liar

Skala Prioritas : Daftar urutan kebutuhan pribadi / kelompok yg disesuaikan dengan tingkat kepentingan dan tingkat penghasilan.
Dan menyusunnya diperlukan tindakan rasional

Tindakan Rasional : Menyesuaikan antara penghasilan dengan barang/jasa yg dibutuhkan.

3.27.2008

Benteng Rotterdam



Perjalanan singkat gw ke Makassar kemarin, menyisakan catatan yang berharap bisa berguna.. Karena waktu yang amat sangat singkat, gw dan Haykal cuma berkunjung ke Benteng Rotterdam dan Pantai Losari. Ditengah cuaca yang panas menyengat kita sempat menengok sekilas isi benteng ini.


Benteng Rotterdam adalah Salah satu benteng peninggalan sejarah yang pernah dibangun di Indonesia dan masih terawat hingga kini (bahkan Barbara Crossette di New York Times menuliskannya sebagai the best preserved Dutch fort in Asia) adalah
Benteng Rotterdam atau Fort Rotterdam yang berlokasi di Jl. Ujung Pandang No.1 Makassar. Menurut keterangan Depbudpar, dulunya sebelum dibangun Fort Rotterdam di tempat ini terdapat benteng milik kerajaan Gowa (bernama Benteng Ujung Pandang) yang dibangun sekitar tahun 1545 oleh raja Gowa ke-10,yang bernama I Manrigau' Daeng Bonto Karaeng Lakiung. Ia juga terkenal dengan nama Karaeng Tunipallangga Ulaweng. Benteng milik kerajaan Gowa tsb kemudian dihancurkan saat Belanda menduduki daerah ini dan setelah perjanjian Bungaya tahun 1667, Belanda membangun Fort Rotterdam sebagai pusat pemerintahan Belanda. Di dalam sejarah, Pangeran Diponegoro, yang memimpin perang Jawa melawan Belanda tahun 1925-1930, pernah ditipu, ditangkap lantas dibuang ke Makassar serta diasingkan selama 26 tahun di Benteng Rotterdam ini.

Kini di dalam bangunan benteng, terdapat Museum Negeri La Galigo yang menyimpan pernak pernik yang berasal dari Tana Toraja.

Benteng ini berbentuk segi empat, terbuat dari tanah liat, dengan gaya arsitektur Portugis. Modelnya sama dengan benteng di Eropa pada abad ke-16 dan 17. Pada salah satu ruangannya, kita dapat menyaksikan tempat Pangeran Diponegoro dipenjara, serta gereja pertama di Makassar yang dibangun Belanda.

Jika diamati dari atas, benteng ini lebih menyerupai seekor penyu. Sebagian sumber berpendapat, bentuk penyu tersebut menggambarkan bahwa Kerajaan Gowa adalah kerajaan pelaut. Benteng itu sebagai pelindung Ibu Kota.

Dalam perjalanan waktu, benteng mengalami beberapa kali perubahan fungsi. Di masa penjajahan Belanda, ia pernah dipugar dan diberi nama Fort Rotterdam, sesuai nama kota di Belanda. Ketika itu Belanda menjadikan benteng ini sebagai pusat perdagangan dan pemerintahan

Pada masa penjajahan Jepang, benteng ini difungsikan sebagai pusat studi pertanian dan bahasa. Kemudian oleh TNI dijadikan sebagai pusat komando. Dan sekarang menjadi pusat kebudayaan dan seni.

Di dalam benteng terdapat Musium La Galigo yang muram karena sepi pengunjung : (.
Kenapa yah orang pada males ke musium padahal karcis masuknya murah
banget..? Tanda masuk ke Benteng Rotterdam sukarela aja kok..




3.24.2008

Sejarah Nusantara pada era kerajaan Islam

Sejarah Nusantara pada era kerajaan Islam

Kerajaan Islam di Indonesia diperkirakan kejayaannya berlangsung antara abad ke-13 sampai dengan abad ke-16. Timbulnya kerajaan-kerajaan tersebut didorong oleh maraknya lalu lintas perdagangan laut dengan pedagang-pedagang Islam dari Arab, India, Persia, Tiongkok, dll. Kerajaan tersebut dapat dibagi menjadi berdasarkan wilayah pusat pemerintahannya, yaitu di Sumatera, Jawa, Maluku, dan Sulawesi.



Kerajaan Islam di Sumatera
Periode tahun tepatnya kerajaan-kerajaan Islam di Sumatera masih simpang siur dan memerlukan rujukan lebih lanjut.
• Kesultanan Perlak (abad ke-9 - abad ke-13)
• Kesultanan Samudera Pasai (abad ke-13 - abad ke-16)
• Kesultanan Malaka (abad ke-14 - abad ke-17)
• Kesultanan Aceh (abad ke-16 - 1903)
• Kerajaan Melayu Jambi
• Kerajaan Melayu Riau
Kerajaan Islam di Jawa
• Kesultanan Demak (1500 - 1550)
• Kesultanan Pajang (1568 - 1618)
• Kesultanan Mataram (1586 - 1755)
• Kesultanan Cirebon (sekitar abad ke-16)
• Kesultanan Banten (abad 16)
Kerajaan Islam di Maluku
• Kesultanan Ternate (1257 - 1583)
• Kesultanan Tidore (1110 - 1947?)
• Kesultanan Jailolo
• Kesultanan Bacan
• Kerajaan Tanah Hitu (1470-1682)
Kerajaan Islam di Sulawesi
• Kesultanan Gowa (awal abad ke-16 - 1667?)
• Kesultanan Buton (1332 - 1911)
• Kesultanan Bone (abad 17)
Kerajaan Islam di Kalimantan
• Kesultanan Banjar
• Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura
• Kesultanan Pontianak

Daftar kerajaan yang pernah ada di Nusantara

A
• Aceh: berada di wilayah utara dari pulau Sumatra, kesultanan Achin atau Atjeh didirikan pada akhir abad ke-15.
• Adonara: kerajaan yang berada di pulau pegunungan berapi yang bernama pulau Adonara di Kepulauan Sunda Kecil.
• Aga Nonsin
• Agang Nionjo
• Aitoon: kerajaan di pulau Timor Barat.
• Ajer Lebu: kerajaan yang lebih kurang merupakan bawahan dari kesultanan Aceh, berada di wilayah Sumatra.
• Alita: kerajaan yang berada di wilayah Bugis, Sulawesi Selatan.
• Allah: kerajaan yang berada di wilayah Bugis, Sulawesi Selatan.
• Amaabi Oefeto: kerajaan di pulau Timor Barat yang terbentuk pada tahun 1917 menjadi kerajaan Kupang yang lebih besar.
• Amabi:kerajaan di pulau Timor Barat yang terbentuk pada tahun 1917 menjadi kerajaan Kupang yang lebih besar.
• Amahei: kerajaan setengah merdeka di barat daya dari Seram di Maluku. Pemimpinnya digelari Raja pada tahun 1960-an.
• Amakono
• Amanatun: kerajaan di Timor Barat (Timor Loro Manu). Kedaulatan kerajaan diganti pada tahun 1962. Istana Raja dipindahkan dari Nunkolo ke SoE pada tahun 1952.
• Amanuban: Kerajaan di Timor Barat (Timor Loro Manu). Istana Raja disebut Sonaf Naik (Istana Besar).
• Amarasi: kerajaan di Timor Barat.
• Ambawang: kerajaan bawahan dari kerajaan Kubu di Kalimantan Barat. Ambawang berusaha menjadi negara merdeka dari Kubu pada tahun sekitar 1800, tetapi tidak diperbolehkan oleh Hindia Belanda yang mengumumkannya pada tahun 1830.
• Ambeno, Ambenu, Ambeno Mosu Talip: kerajaan di Timor Barat.
• Ambeno Kolabe: kerajaan di Timor Barat (Timor Loro Manu), didirikan oleh orang-orang yang melarikan diri dari Oecussi Ambeno
• Amfoan, Amfoang, Amfoan Naikliu, Amfoan Timau: kerajaan di Timor Barat, awalnya disebut hanya Amfoan, tetapi kemudian pecah menjadi 2 cabang; Amfoan Naikliu dan Amfoan Timau. Raja dari Amfoan Naikliu memerintah hanya pada kota Naikliu dan beberapa desa.
• Ampibabo: kerajaan yang berada di tengah Sulawesi
• Anakalang: kerajaan yang berada di barat dari pulau Sumba
• Andeue dan Lala: kerajaan yang merupakan bawahan dari kesultanan Aceh, berada di wilayah Sumatra.
• Arai: kerajaan yang merupakan bawahan dari kesultanan Aceh, berada di wilayah Sumatra. Merupakan bagian dari Federasi Hulubalang XII.
• Areë
• Aru atau Haru: kerajaan suku Karo di muara sungai Wampu, Sumatera Utara.
• Arun: kerajaan bawahan dari kesultanan Aceh, di daerah Meureudu, Sumatra. Merupakan bagian dari Federasi Hulubalang XII.
• Asahan: berada di Sumatra bagian timur, didirikan menjadi sebuah kerajaan pada akhir abad ke-17 oleh anak dari Sultan Aceh.[1]
• Ati Ati: Kerajaan yang berada di bagian timur pulau Irian.
• Atingola: kerajaan di Sulawesi Utara. didirikan tahun 1667 dan ditundukkan pada tahun 1889.

B
• Baa: satu dari 19 kerajaan yang berada di kepulauan Rote, Barat Daya Pulau Timor, dibentuk tahun 1691.
• Bacan: kerajaan seluas 1.600 km² di Kepulauan Maluku yang didirikan pada tahun 1322 oleh orang-orang dari Djailolo (sekarang Jailolo) dan diperintah oleh pemimpin Islam sejak abad ke-16, yang kemudian bergelar Sultan.
• Bada: kerajaan di Sulawesi Tengah
• Badung: kerajaan yang dibentuk karena kejatuhan Majapahit, setelah Dewa Agung Ketut, penguasa Bali dan Lombok membagi kerajaannya untuk ke-9 anak-anaknya. Wilayahnya saat ini menjadi Kabupaten Badung.
• Bagoh
• Bait: kerajaan kecil di Timor Barat
• Baju: kerajaan yang merupakan bagian dari Kesultanan Aceh di daerah Sumatra.
• Balangnipa: kerajaan di daerah Mandar, Sulawesi Selatan, dibentuk tahun 1667.
• Balatu: kerajaan di Sulawesi Selatan, dibentuk tahun 1667.
• Balepe: kerajaan di daerah Toraja, Sulawesi Selatan.
• Bali dan Lombok
• Bambel: kerajaan yang merupakan bagian dari Kesultanan Aceh di daerah Sumatra.
• Bambi dan Oenoë, Bambi dan Unu: kerajaan yang merupakan bagian dari Kesultanan Aceh di Sigli. Merupakan bagian dari Federasi Hulubalang VI.
• Banasu: kerajaan di Sulawesi Tengah.
• Banawa: kerajaan di Sulawesi Tengah, yang dibentuk pada 1667.
• Bancea dan Puumbolo: kerajaan di Sulawesi Tengah, bagian dari Poso.
• Bandahara
• Banga: kerajaan di daerah Toraja, Sulawesi Selatan.
• Banggai: kerajaan di Pulau Banggai di tenggara Sulawesi.
• Bangkala: kerajaan di daerah Makassar, Sulawesi Selatan, ditundukkan pada tahun 1863.
• Bangkalan: kerajaan seluas 354 km² di Pulau Madura yang menurut legenda didirikan oleh Raja Majapahit terakhir. Penguasa pertama pada tahun 1530 adalah anak dari Pangeran Palakaran, awal abad ke-16.
• Bangli: kerajaan yang didirikan setelah kejatuhan Majapahit, setelah Dewa Agung Ketut, Penguasa Bali dan Lombok membagi kerajaannya.
• Banjar: kerajaan di Kalimantan Selatan yang mungkin didirikan akhir abad ke-14 oleh Empu Djamatka dari Hindustan, memeluk Islam pada 1520.[2]
• Bantam
• Banten: didirikan awal abad ke-16 saat kejatuhan Majapahit.
• Bantjea dan Puumbolo
• Barang Barang: kerajaan di Sulawesi Selatan, didirikan pada 1667.
• Barnusa: kerajaan di bagian barat dari Pulau Pantar, sebelah barat Pulau Alor. Kekuasaan terpisah menjadi dua marga yaitu Baso dan Blegar.
• Barru: kerajaan di daerah Bugis, Sulawesi Selatan.
• Baruija: kerajaan di Sulawesi Selatan, dibentuk pada 1667.
• Barus: kesultanan yang didirikan oleh Dinasti Pardosi. Wilayahnya memanjang dari Mandailing Natal sampai Tarumon di Singkil.[3]
• Barusjahe: kerajaan di Sumatera Timur.
• Battoise
• Batu Baharang Urung (Federasi)
• Batu Kankung: kerajaan di Sumatera Barat.
• Batulapa: kerajaan di daerah Bugis, Sulawesi Selatan.
• Batulicin: kerajaan di Kalimantan Selatan.
• Batulolong: kerajaan di Pulau Pantar, sebelah barat Pulau Alor.
• Batu Mbulan
• Batuputih
• Bau: kerajaan di daerah Toraja, Sulawesi Selatan.
• Beboki: kerajaan di Timor Barat.
• Bedagei: kerajaan seluas 337.52 km² Sumatera Timur, bagian dari Kesultanan Deli.
• Bedahulu atau Bedulu: kerajaan kuno di Gianyar, Bali, sekitar abad ke-8 sampai ke-14.
• Belu: federasi kerajaan di Timor Barat.
• Bendjoar
• Benu: kerajaan di Timor Barat (Timor Loro Manu).
• Berau, Berouw: kerajaan di Kalimantan Timur.
• Berutas
• Besiana: kerajaan di Timor Barat.
• Besitan: kerajaan seluas 165 km² Sumatra Timur.
• Besoa: kerajaan di Sulawesi Tengah.
• Beubasan
• Beutong: kerajaan bawahan dari Kesultanan Aceh.
• Biboki
• Bila: kerajaan di Sumatera Timur.
• Bilba: satu dari 19 kerajaan di kepulauan Rote.
• Bima: kerajaan yang eksis pada abad ke-17 di Pulau Sumbawa.[4]
• Binamo, Binamu: kerajaan di daerah Makassar, Sulawesi Selatan, dibangun pada tahun 1864 sebagai pengganti Turatea dan dikuasai oleh Belanda pada 1906.
• Bingei: kerajaan seluas 94.53 km² di Sumatra Timur.
• Bintamo: kerajaan di daerah Makassar, Sulawesi Selatan.
• Bintauna: kerajaan di Barat laut Sulawesi.
• Binuang: kerajaan di daerah Mandar, Sulawesi Selatan.
• Birumaru: kerajaan di Sulawesi Tengah, bersatu dengan Dolo dari 1908 menjadi Dolo Birumaru, kemudian terpisah dan bergabung dengan Sigi dari 1915 sampai 1929 menjadi Sigi Birumaru.
• Blagar: kerajaan di sebelah tenggara Pulau Pantar, arah barat Pulau Alor.
• Blambangan: kerajaan yang ada pada akhir era Majapahit di daerah Blambangan, selatan Banyuwangi.
• Blangmangat: kerajaan di bawah Kesultanan Aceh.
• Blangme, Blang Meh: kerajaan di bawah Kesultanan Aceh.
• Blang Pedir, Blangpidie: kerajaan di bawah Kesultanan Aceh.
• Blayu: kerajaan di Bali yang terletak di kecamatan Marga, Tabanan.
• Bluek: kerajaan di bawah Kesultanan Aceh.
• Boalemo: kerajaan di Sulawesi Utara, ditundukkan Belanda pada 1889.
• Bobasan: kerajaan di bawah Kesultanan Aceh.
• Boga Sukudua: kerajaan di daerah Sumatera Timur.
• Bohorok: kerajaan seluas 19.92 km² Sumatra Timur.
• Bokai: satu dari 19 kerajaan di kepulauan Rote. Didirikan 1756.
• Bolaäng Itang: negara kota di Sulawesi Utara, bersatu dengan Kaidipang tahun 1912 menjadi Kaidipang Besar.
• Bolaäng Mongondow: kerajaan di Sulawesi Utara yang bergabung tahun 1568 dengan Ternate dan menjadi bagian pada tahun 1677. Tonsawang, Pasan, Ratahan, Povosakon dan sebagian Bantik membayar uptei ke Bolaäng pada 1697.
• Bolaäng Uki: negara kota di Sulawesi Utara.
• Bolano: kerajaan di tengah daerah Moutong, Sulawesi Tengah.
• Bone: di daerah Bugis, Sulawesi Selatan. didirikan pada 1634, ditundukkan Belanda pada 1905 dan dikembalikan pada 1931.[5]
• Bonea: kerajaan di Sulawesi Selatan, dibentuk pada 1667.
• Bonerate: kerajaan di Pulau Bonerate, Sulawesi Selatan, dibentuk pada 1667.
• Bontobangun: kerajaan di Sulawesi Selatan, dibentuk pada 1667.
• Bontobatu
• Buakaju: kerajaan di daerah Toraja, Sulawesi Selatan.
• Bubon: kerajaan di Sumatera.
• Buging dan Bagoh: kerajaan di bawah Kesultanan Aceh.
• Buket
• Buleleng: kerajaan yang dibangun sebagai akibat dari kejatuhan Majapahit, setelah Dewa Agung Ketut, penguasa Bali dan Lombok membagi kerajaannya.[6]
• Bulo Bulo: kerajaan di Sulawesi Selatan.
• Bulungan, Boelongan: kerajaan di Kalimantan Timur, Bagian dari Berau pada abad ke-19.
• Bungku: kerajaan di Sulawesi Tengah, merdeka dari Ternate pada 1900.
• Buntubatu: kerajaan di daerah Bugis, Sulawesi Selatan.
• Bunut: kerajaan di Kalimantan Barat.
• Buol: negara kota di Sulawesi Tengah, didirikan pada 1660.
• Buton: kerajaan yang didirikan sebelum 1550 di Pulau Buton, di tenggara Sulawesi. Sejak 1886, memiliki 3 keturunan sultan yaitu: Kaum Tanailandutak, Kaum Tapitapitak dan Kaum Kumbewahatak.

C
• Campa: kerajaan di Vietnam bagian selatan.
• Cantung: kerajaan di Kalimantan Selatan.
• Cenrana: kerajaan di daerah Mandar, Sulawesi Barat.
• Ceranti
• Cirebon: kerajaan yang didirikan pada tahun 1478 sebagai akibat dari kejatuhan Majapahit.
• Cumbok
• Cunda

D
• Dafalu: kerajaan di Timor Barat.
• Daha: kerajaan Hindu yang pernah berdiri di Kalimantan Selatan.
• Dehla: satu dari 19 kerajaan di kepulauan Rote, Barat daya Pulau Timor. Dehla melepaskan diri dari Oenale dan didirikan pada tahun 1800-an.
• Deli: kerajaan seluas 1,820 km² di timur Sumatera dan didirikan pada tahun 1630. Kerajaan antara tahun 1630 sampai 1814, berubah menjadi kesultanan tahun 1814 ketika memperoleh kemerdekaan dari Kerajaan Siak.[7]
• Demak: kerajaan Islam pertama di Jawa, didirikan di Demak pada tahun 1478 oleh Raden Patah.
• Denai: kerajaan kota seluas 46 km² di timur Sumatra.
• Dengka: kerajaan terbesar dari 19 kerajaan yang berada di Pulau Rote.
• Denpasar
• Dharmasraya: kerajaan yang terletak di selatan Kabupaten Sawahlunto Sijunjung, Sumatera Barat, dan di utara Jambi. Memiliki persahabatan erat dengan Majapahit dengan perkawinan kedua putrinya, Dara Jingga dan Dara Petak dengan Raja dan bangsawan Majapahit.
• Dimu
• Dirma: kerajaan di Timor Barat (Timor Loro Manu). Kadang merupakan bagian dari Federai Belu.
• Diu: satu dari 19 kerajaan di Pulau Rote, kadang berada di bawah kekuasaan Korbafo, didirikan pada 1691.
• Djailolo
• Djambi
• Djongkong
• Dolago: kerajaan di Kabupaten Parigi Moutong Sulawesi Tengah.
• Dolo: kerajaan di Sulawesi Tengah. Dolo pernah bergabung dengan Rindau dan Kaleke dari tahun 1650 sampai 1890, dengan Birumaru dari 1908 menjadi Dolo Birumaru sampai Birumaru memisahkan diri.
• Dolok Silau: kerajaan di Sumatra Timur.
• Dompu: kerajaan di Pulau Sumbawa
• Donggala
• Federasi Duri

E
• Edi Besar (keakuratan dipertanyakan)
• Edi Tjoet (keakuratan dipertanyakan)
• Mukims Sama Indra VIII dan Lhok Kaju (keakuratan dipertanyakan)
• Ende: kerajaan kepulauan di kepuluan Flores
• Enjung: kurang lebih adalah kerajaan bawahan dari kesultanan Aceh, didaerah Sumatera. Kerajaan ini adalah bagian dari federasi Hulubalangs XII dari Pedir.
• Enrekang: kerajaan di wilayah Bugi di Celebes Selatan.
• Faan: kerajaan di pulai Kei Kecil, kepulauan Kei di Maluku. (keakuratan dipertanyakan)

F
• Fatagar: kerajaan yang berada di timur Papua.
• Fatu Leu: kerajaan di Timor Barat, dibentuk tahun 1912
• Fialarang: kerajaan merdeka atau setengah merdeka di Timor Barat (Timor Loro Manu). Kadang-kadang dianggap menjadi bagian dari federasi Belu.
• Foenay: kerajaan di Timor Barat yang terbentuk tahun 1917

G
• Gajo Lues
• Galesong: kerajaan di wilayah Makassar di Sulawesi Selatan.
• Gaura: kerajaan di pulau Sumba.
• Gebang: kerajaan bawahan dari Kesultanan Cirebon, di Jawa.
• Gedong, Geudong: kerajaan yang dibentuk abad ke-16, bawahan dari kesultanan Aceh, di wilayah Sumatra.
• Gelgel: kerajaan di pulau Bali yang terbentuk setelah runtuhnya Majapahit. Kerajaan ini menganggap dirinya sebagai penerus sejati Majapahit.
• Geumpang: kerajaan bawahan dari kesultanan Aceh, di wilayah Sumatra.
• Gianyar: kerajaan yang dibentuk setelah keruntuhan kerajaan Majapahit, sesudah Dewa Agung Ketut, pemimpin Bali dan Lombok membagi kerajaan besarnya menjadi beberapa kerajaan di antara 9 miliknya.
• Gighen: kerajaan bawahan dari kesultanan Aceh, di wilayah Sigli Sumatra. Kerajaan ini adalah bagian dari Federasi Hulubalang VI dari Gighen.
• Gigiëng
• Glumpangduwa
• Glumpang Pajong: kerajaan bawahan dari kesultanan Aceh, di wilayah Sigli Sumatra.
• Goa atau Gowa: kerajaan yang berada di wilayah Makassar di barat daya Sulawesi, sebelum tahun 1300.[8]
• Gorontalo: Kerajaan di Sulawesi Utara, didirikan tahun 1667.
• Gresik
• Gunung Sahilan: kerajaan yang mempunyai luas 359.12 km² di Sumatra timur.
• Gunung Mutis: kerajaan yang ada di Timor Barat (Timor Loro Manu), bawahan kerajaan Mollo.
• Gunungtabur: kerajaan di Kalimantan Timur, dibentuk dari kerajaan Berau yang dibagi menjadi 2 kerajaan.

H
• Harneno: kerajaan di Timor Barat (Timor Loro Manu). Keturunan dari kerajaan Beboki
• Haruku: kerajaan kepulauan di Ambon timur, Maluku Tengah
• Heba
• Helong
• Henda Heti
• Holontalo
• Hitu: kerajaan yang terletak di Pulau Ambon, Maluku, masa kejayaannya berkisar antara tahun 1470 sampai dengan 1682 dengan rajanya yang bergelar Upu Latu Sitania.

I
• Iboih: kerajaan yang kurang lebih bawahan dari kesultanan Aceh, di pulau Weh, daerah Sigli, Sumatra.
• Idi Besar: kerajaan yang kurang lebih bawahan dari kesultanan Aceh, di pulau Weh, Sumatra.
• Idi Cut
• Idi Ketjil
• Idi Rajeu, Idi Rajut
• Idi Tjut: kerajaan yang kurang lebih bawahan dari kesultanan Aceh, di pulau Weh, Sumatra.
• Ilot: kerajaan yang kurang lebih bawahan dari kesultanan Aceh, di pulau Weh, Sumatra.
• Indamar: kerajaan kecil di Sumatra barat.
• Inderapura (Sri)
• Indragiri: kerajaan di Sumatera Timur, didirikan 1639, merdeka dari Johor tahun 1745
• Inderapura: kerajaan dengan luas 62 km² di Sumatera Timur, dibentuk oleh kerajaan-kerajaan seperti Tanjung, Tanjung Kassau, Si Pare Pare dan Pagurawan, di bawah jabatan raja Tanjung.
• Insana: kerajaan di Timor Barat (Timor Loro Manu)

J
• Jailolo: kesultanan di Pulau Halmahera di Maluku Utara. kerajaan utama sebelumnya adalah Jailolo paad 1322, tetapi pada 1380, Ternate memegang kekuasaan atas pulau tersebut.
• Jambi: kerajaan seluas 53,206 km² di selatan Sumatera, didirikan pada 1690 dan dikuasai Belanda pada 1901.
• Janggala: salah satu dari dua kerajaan pecahan Kahuripan tahun 1049 (satu lainnya adalah Kadiri), yang dipecah oleh Airlangga untuk dua puteranya.
• Jangka Buda
• Jarewea
• Jenilu: kerajaan di Timor Barat (Timor Loro Manu).
• Jodjakarta
• Jolok Ketjil: kerajaan bawahan Kesultanan Aceh.
• Jongkong: kerajaan di Kalimantan Barat
• Julo Cut, Julo Tjut: kerajaan bawahan Kesultanan Aceh.
• Julo Rajeu: kerajaan bawahan Kesultanan Aceh.
• Juluk Tjut

K
• Kota V di Mudik (keakuratan dipertanyakan)
• Kota V di Tengah (keakuratan dipertanyakan)
• Kuta V (keakuratan dipertanyakan)
• Kota IV di Ilir (keakuratan dipertanyakan)
• Kota IV di Mudik (keakuratan dipertanyakan)
• Kota IV Rokan Kiri (keakuratan dipertanyakan)
• Kadiri, Kediri: kerajaan yang bercorak Hindu di Jawa Timur, berdiri sekitar tahun 1045-1221. Disebut juga dengan nama Panjalu atau Dhaha.
• Kahuripan: kerajaan di Jawa Timur yang didirikan oleh Airlangga pada tahun 1019. Kerajaan ini dibangun dari sisa-sisa istana Kerajaan Medang yang telah dihancurkan oleh Sriwijaya pada tahun 1019.
• Kaidipang Besar: kerajaan kota di Sulawesi Utara, dibentuk tahun 1912 sebagai hasil dari penggabungan kerajaan Kaidipang dan Bolaäng Itang.
• Kalao: kerajaan dari kepulauan Kalao, terletak di Sulawesi Selatan, dibentuk tahun 1667.
• Kalaota: kerajaan di pulau Kalaota, di Sulawesi Selatan, dibentuk tahun 1667.
• Kale
• Kaleke
• Kalibawang: Kerajaan merdeka yang dibentuk tahun 1831 oleh Sultan Yogyakarta untuk cucu dari Sultan Abdul Rahman Amangku Buwono II (keakuratan dipertanyakan).
• Kalingga: kerajaan bercorak Hindu di Jawa Tengah, yang pusatnya berada di daerah Kabupaten Jepara sekarang.
• Kalungkung
• Kambera: kerajaan di pulau Sumba.
• Kampong Raja: kerajaan di Sumatera, didirikan tahun 1630 oleh anak dari Raja Bila.
• Kanatang: kerajaan di pulau Sumba.
• Kandhar
• KangaE: kerajaan di pulau Flores.
• Kanjuruhan: kerajaan bercorak Hindu di Jawa Timur, yang pusatnya berada di dekat Kota Malang sekarang
• Kapunduk: kerajaan yang berada di timur dari pulau Sumba.
• Karang: kerajaan yang kurang lebih merupakan bawahan dari kesultanan Aceh, di daerah Tamiang, Sumatra.
• Karangasem: kerajaan yang dibentuk setelah keruntuhan kerajaan Majapahit, sesudah Dewa Agung Ketut, penguasa Bali dan Lombok membagi kerajaannya menjadi beberapa kerajaan di antara 9 miliknya.[9]
• Kasa: kerajaan di wilayah Bugis, Sulawesi Selatan.
• Kasiman
• Kasimbar: kerajaan di Sulawesi Tengah.
• Kassa
• Kassiman
• Kawai XVI: kerajaan yang kurang lebih merupakan bawahan dari kesultanan Aceh, di wilayah Sumatra.
• Kawali
• Kayaudi: kerajaan di Sulawesi Selatan, dibentuk tahun 1667
• Kejuruan Muda: kerajaan yang kurang lebih merupakan bawahan dari kesultanan Aceh, di daerah Tamiang, Sumatra.
• Keka: satu dari 19 kerajaan di kelompok Pulau Rote, barat daya dari Timor. Keka melepaskan diri dari Termanu tahun 1772.
• Kendahe: kerajaan di Sulawesi Utara, dibentuk tahun 1521 di pulau Sangir dan menjadi kabupaten dari Kendahe Tahuna dari tahun 1896 sampai 1950.
• Keo
• Kepanuhan: kerajaan di Sumatera Timur.
• Kerambitan
• Kesiman, atau Kessiman
• Keumala: kerajaan yang merupakan bawahan dari kesultanan Aceh. kerajaan ini merupakan bagian dari federasi Hulubalangs VI.
• Keumangan: kerajaan yang merupakan bawahan dari kesultanan Aceh. kerajaan ini merupakan bagian dari federasi Hulubalangs VI.
• Keureutu: kerajaan yang merupakan bawahan dari kesultanan Aceh.
• Kewar: kerajaan setengah merdeka di Timor Barat (Timor Loro Manu). Sejarah Kewar nampaknya berhubungan dengan Lamaknen.
• Kilang: dinasti turunan dari raja-raja Majapahit di Jawa. 3 bersaudara masing-masing membentuk kerajaan Soya, di puncak gunung Sirimau, kerajaan Nusaniwe, dan kerajaan Kilang.
• Kisar: kerajaan pulau di utara dari Timor Timur, nama lokalnya Yotowawa dan kadang disebut juga Kisser.
• Klein Sonbait
• Kluang: kerajaan yang merupakan bawahan dari kesultanan Aceh.
• Klumpang Duwa: kerajaan yang kurang lebih merupakan bawahan dari kesultanan Aceh, di wilayah Sumatra
• Klumpang Pajong: kerajaan yang merupakan bawahan dari kesultanan Aceh. kerajaan ini merupakan bagian dari Federasi Hulubalangs VI.
• Klungkung: kerajaan utama yang lahir sesudah keruntuhan kerajaan Majapahit, sesudah Dewa Agung Ketut, pemimpin Bali dan Lombok membagi kerajaannya menjadi beberapa kerajaan di antara 9 miliknya.
• Kobi
• Kodi Belagar: kerajaan di pulau Sumba
• Kodi Bengado: kerajaan di pulau Sumba
• Kodi Besar: kerajaan di pulau Sumba
• Kolaka: kerajaan di Sulawesi Selatan. Kerajaan ini adalah bawahan dari Luwu, yang juga memelihara hubungan yang kuat dengan Laiwui.
• Kolana: kerajaan di pulau Alor. Kolana bergabung dengan Pureman dan Erana di tahun 1932.
• Konaweha: kerajaan di Sulawesi Selatan.
• Kondeha: kerajaan di Sulawesi Selatan.
• Korbafo: satu dari 19 kerajaan di kelompok kepulauan Rote, barat daya dari Timor.
• Kota Besar: kerajaan di Sumatra Barat.
• Kota Intan
• Kota Lama
• Kota Pinang: kerajaan yang mempunyai luas 1,859 km² di Sumatera Timur, didirikan tahun 1630 oleh anak dari Raja Bila.
• Kotawaringin: kerajaan yang didirikan pada tahun 1679 di Kalimantan Tengah.
• Kruengpase: kerajaan yang merupakan bawahan dari kesultanan Aceh, di wilayah Sumatra.
• Krueng Sabe, atau Krung Sabil: kerajaan yang kurang lebih merupakan bawahan dari kesultanan Aceh, di wilayah Sumatra.
• Krueng Seumideuen: kerajaan bawahan dari kesultanan Aceh, di wilayah Sigli, Sumatera. kerajaan ini merupakan bagian dari Federasi Hulubalangs VI.
• Kuala Bateo: kerajaan bawahan dari kesultanan Aceh, di wilayah Sumatera.
• Kualuh dan Leidong: kerajaan yang didirikan pada tahun 1868 untuk Tuanku Namatu'llah, cucu dari Raja Musa Shah, Sultan Asahan[10]
• Kuantan: kerajaan di Riau, Sumatra, salah satu rajanya adalah Tuanku Pandak Yang Dipertuan pada tahun 1600-an. Dia mempunyai seorang anak perempuan bernama Puti Cahaya Korong yang menikah dengan Yang Dipertuan Bukit Tarok.
• Kubu: kerajaan yang dibentuk tahun 1772 di Kalimantan Barat dan memiliki kaitan erat dengan Kesultanan Pontianak.[11]
• Kuet: kerajaan bawahan dari kesultanan Aceh.
• Kui: kerajaan di pulau Alor.
• Kulawi: kerajaan kota di Sulawesi Tengah, dibentuk tahun 1915
• Kuntodaressalam: kerajaan dengan luas 2.450 km² di Sumatera Timur, dibentuk dari kerajaan Kota Intan dan Kota Lama.
• Kupang: suatu federasi yang dibentuk tahun 1917 yang disusun oleh kerajaan Amabi, Amaabi OEfeto, Foenay, Kupang Helong, Sonbai Kecil dan TaEbenu dengan seorang raja terpilih.[12]
• Kupang Helong: kerajaan di Timor Barat yang dibentuk tahun 1917 menjadi kerajaan Kupang yang lebih besar dengan Amaabi OEfetto, Amabi, Foenay, Sonbai Kecil dan TaEbenu.
• Kuripan: kerajaan kuno yang beribukota di kecamatan Danau Panggang, Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan.
• Kusa: kerajaan di Timor Barat.
• Kutabuluh: kerajaan di Sumatera Timur.
• Kutai Kartanegara ing Martadipura: kesultanan di Kalimantan Timur yang awalnya berpusat di Kutai Lama, kemudian menguasai Kutai Martadipura.[13]
• Kutai Martadipura: kerajaan hindu di Kalimantan Timur, dengan rajanya yang terkenal Mulawarman, pusat kerajaan terletak di Muara Kaman.[13]
• Kuwala Batu
• Kuwalu dan Ledong: kerajaan di Sumatera Timur

L
• Labakkang: kerajaan dan kota di wilayah Makassar di Sulawesi Selatan. Kerajaan ini dibentuk abad ke-16 dan ditindas pada tahun 1892 sewaktu menjadi bagian dari Pangkajene.
• Labala: kerajaan di selatan pulau Lomblem atau Lembata.
• Labuhanhaji: kerajaan yang kurang lebih merupakan bawahan dari kesultanan Aceh, di wilayah Sumatra. Tanah jajahannya adalah Kota Tring, Pelokkan, Kamumu (atau Kenumu), dan Pelumat.
• Lage: kerajaan di Sulawesi Tengah, bawahan dari Posso.
• Lageuen: kerajaan yang kurang lebih merupakan bawahan dari kesultanan Aceh, di wilayah Sumatra.
• Laikang: kerajaan di wilayah Makassar, Sulawesi Selatan.
• Laisolat: kerajaan di Timor Barat.
• Laiwui: kerajaan di Sulawesi Barat.
• Lakatang: kerajaan dan kota di wilayah Makassar di Sulawesi Selatan.
• Lakekun: kerajaan di Timor Barat
• Lakoka: kerajaan di pulau Sumba
• Lakoon
• Lala
• Lamahala: kerajaan di pulau Adonara. Lamahala digabung ke Larantuka pada tahun 1932.
• Lamakera: kerajaan di pulau Solor, dibentuk setelah pemisahan kerajaan Solor menjadi dua, Lohayong dan Lamakera.
• Lamaknen
• Lamaksenulu: kerajaan merdeka atau setengah merdeka di Timor Barat (Timor Loro Manu). Kadang-kadang menjadi bagian dari ferasi Belu.
• Lambeusu: kerajaan yang kurang lebih merupakan bawahan dari kesultanan Aceh, di wilayah Sumatra
• Lambu
• Lamuru: kerajaan bawahan dari Bone, wilayah Bugis, Sulawesi Selatan. Didirikan tahun 1609.
• Landak: kerajaan di Kalimantan Barat yang merdeka tahun 1478 sesudah keruntuhan kerajaan Majapahit.
• Landu: kerajaan yang paling tua dari 19 kerajaan kelompok pulau Rote, terletak di barat-day Timor.
• Langkat: kerajaan dengan luas 3.336 km² di Sumatera Timur. Didiriikan tahun 1721.[14]
• Langsa, Langsar: kerajaan yang kurang lebih merupakan bawahan dari kesultanan Aceh, di wilayah Sumatra.
• Lapai: kerajaan di Sulawesi Selatan.
• Larantuka: kerajaan dengan luas 3.330 km² di kepulauan Flores, ditemukan tahun 1400.
• Lauli: kerajaan di pulau Sumba.
• Laura: kerajaan di pulau Sumba.
• Lawajong
• Laweueng
• Lawonda: kerajaan di pulau Sumba.
• Ledong, Leidong
• Lelain: satu dari 19 kerajaan di kelompok pulau Rote, barat-day Timor. Sebelum Lelain menjadi kerajaan terpisah sendiri tahun 1690, Lelain melepaskan diri dari Bokai.
• Lelenuk: satu dari 19 kerajaan di kelompok pulau Rote, barat-day Timor. Kerajaan melepaskan diri dari Termanu dan dibentuk tahun 1772
• Lengkese: kerajaan kota di wilayah Makassar di Sulawesi Selatan.
• Lepan: kerajaan di Sumatera Timur dengan luas 31 km²
• Leukon, Leukuen: kerajaan di pulau Simeulue, di wilayah Sumatra, tunduk kepada Belanda pada tahun 1880.
• Lewa: kerajaan di pulau Sumba.
• Lhokbubon: kerajaan yang kurang lebih merupakan bawahan dari kesultanan Aceh, di wilayah Sumatra.
• Lhok Kaju
• Lhokkruet: kerajaan yang kurang lebih merupakan bawahan dari kesultanan Aceh, di wilayah Sumatra.
• Lhokpawoh Utara: kerajaan yang kurang lebih merupakan bawahan dari kesultanan Aceh, di wilayah Sumatra.
• Lhokpawoh Selatan: kerajaan yang kurang lebih merupakan bawahan dari kesultanan Aceh, di wilayah Sumatra.
• Lhok Rigaih
• Lhokseumawe: kerajaan yang kurang lebih merupakan bawahan dari kesultanan Aceh, di wilayah Sumatra.
• LiaE: kerajaan yang berada di wilayah pulau Sawu.
• Lidak: kerajaan di bagian timur dari Timor Barat.
• Lilinta: kerajaan di barat dari Papua.
• Lima Laras: kerajaan dengan luas 202 km² di Sumatera Timur. Lima Laras membentuk federasi Batu Bahara Urung.
• Lima Puloh: kerajaan dengan luas 148 km²di Sumatra Timur. Lima Puloh membentuk federasi Batu Bahara Urung.
• Limboto: kerajaan kota di Sulawesi Utara, ditemukan tahun 1667 dan ditekan tahun 1895.
• Lindai: kerajaan di Sumatera Timur.
• Lingga-Riau: kerajaan Riau di Sumatera Timur yang didirikan tahun 1720 sebagai jajahan dari kesultanan Johor. tahun 1824, kesultanan Lingga dibentuk.[15]
• Linggo: kerajaan yang kurang lebih merupakan bawahan dari kesultanan Aceh.
• Lio: kerajaan di pulau Flores.
• Lise: kerajaan di pulau Flores.
• Logas
• Lohayong: kerajaan di pulau Solor, dibentuk dari pemisahan kerajaan Solor menjadi 2 kerajaan.
• Lok Semawe
• Loleh: satu dari 19 kerajaan di kelompok pulau Rote, barat-daya Timor. Dikuasai oleh Termanu tahun 1730.
• Lombok: kerajaan pulau di Bali yang menjadi merdeka setelah keruntuhan kerajaan Majapahit, sesudah Dewa Agung Ketut, pemimpin Bali dan Lombok membagi kerajaannya menjadi beberapa.
• Lore
• Lubuk Ambacang: kerajaan di Sumatera Timur, dibentuk dari pemisahan kerajaan Kuantan menjadi 5 kerajaan.
• Lubuk Jambi: kerajaan di Sumatera Timur, dibentuk dari pemisahan kerajaan Kuantan menjadi 5 kerajaan.
• Lubuk Ramo: kerajaan di Sumatera Timur, dibentuk dari pemisahan kerajaan Kuantan menjadi 5 kerajaan.
• Luwu: kerajaan yang didirikan sebelum tahun 1600 di wilayah Bugis, Sulawesi Selatan.

M
• Madura: kerajaan di daerah Madura, Jawa Timur, dengan tokoh terkenalnya Joko Tole da Trunojoyo
• Maiwa: kerajaan di daerah Bugis, Sulawesi Selatan, didirikan pada 1685.
• Majapahit: kerajaan terbesar pada masanya yang menguasai nusantara, berpusat di Jawa Timur.
• Majene: kerajaan di daerah Mandar, Sulawesi Barat.
• Makale: satu dari 3 kepangeranan utama di luar 14 di daerah Tana Toraja, Sulawesi Selatan.
• Makassar
• Makier: kerajaan merdeka atau semi-merdeka di Timor Barat.
• Malaka
• Malimbong: kerajaan di derah Tana Toraja, Sulawesi Selatan.
• Malua
• Malusetasi: kerajaan di daerah Bugis, Sulawesi Selatan.
• Maluwa: kerajaan kota di derah Bugis, Sulawesi Selatan. Pernah menjadi anggota Federasi Duri.
• Mambulu: kerajaan di Sulawesi Selatan.
• Mampawa
• Mamuju: kerajaan di daerah Mandar, Sulawesi Barat.
• Manbait
• Mandalle: kerajaan kota di daerah Makassar, Sulawesi Selatan.
• Mandeo: kerajaan merdeka atau semi-merdeka di Timor Barat.
• Manganitu: kerajaan di Sulawesi Utara, didirikan pada 1521 dan menjadi regenschap ("kabupaten") dari 1911 sampai 1950 dengan Manganitu sebagai ibukota.
• Manggarai: kerajaan di Pulau Flores, berdiri dari 1759. Dari 1762 s.d. 1815 dan dari 1851 s.d. 1907, Manggarai merupakan bagian dari Kesultanan Bima.
• Manggeng: kerajaan bawahan Kesultanan Aceh.
• Mangkunagaran: kerajaan seluas 2.579,98 km² yang didirikan pada 17 Maret 1757 di Kasunanan Surakarta.[16]
• Manoletten: kerajaan di Timor Barat.
• Manubait: kerajaan di Timor Barat.
• Mapia: kerajaan di utara Papua, di pulau Mapia.
• Mappa: kerajaan di Tana Toraja, Sulawesi Selatan.
• Marang: kerajaan kota di daerah Makassar, Sulawesi Selatan.
• Marioriawa: kerajaan di daerah Bugis, Sulawesi Selatan.
• Marioriwawo: kerajaan di daerah Bugis, Sulawesi Selatan. Jajahan dari Soppeng.
• Maros: kerajaan di barat daya Sulawesi, bawahan dari Gowa.
• Massu Karera: kerajaan di pulau Sumba.
• Matan: kerajaan di Kalimantan Barat.
• Matangkuli: kerajaan bawahan kesultanan Aceh.
• Mataram Kuno:sebuah kerajaan Hindu-Budha di Yogyakarta.
• Mataru: kerajaan di pulau Alor, yang kemudian digabungkan oleh Belanda pada 1932 menjadi kerajaan yang lebih besar.
• Maukatar: kerajaan merdeka atau semi-merdeka di Timor Barat.
• Maumutin: kerajaan di Timor Barat.
• Mbuli: kerajaan di pulau Flores.
• Medang:
• Mehara
• Melabuh
• Melayu Jambi: lihat Dharmasraya
• Melayu Tua-Jambi: lihat Dharmasraya
• Meliau: kerajaan di Kalimantan Barat.
• Melolo: kerajaan di pulau Sumba.
• Membawang
• Membora: kerajaan di pulau Sumba.
• Mempawah: kerajaan di Kalimantan Barat.
• Mengkendek: satu dari 3 kepangeranan utama di luar 14 di daerah Tana Toraja, Sulawesi Selatan.
• Mengwi: kerajaan di Bali
• Menia: kerajaan di pulau Sawu.
• Menjili: kerajaan di pulau Sumba.
• Menungul: kerajaan di Kalimantan Timur.
• Merdu
• Mesara: kerajaan di pulau Sawu.
• Me Tareuen: kerajaan bawahan kesultanan Aceh.
• Meuke: kerajaan seluas 353 km² yang merupakan bawahan kesultanan Aceh.
• Meulaboh
• Meureubok
• Meureudu: kerajaan bawahan kesultanan Aceh, di daerah Meureudu, Sumatera.
• Minangkabau: kesultanan terkuat di Sumatera abad ke-12 sampai abad ke-17.
• Miomaffo: kerajaan di Timor Barat.
• Misool: kerajaan di pulau Misool, bawahan dari Tidore.
• Moko Moko: kerajaan di Sumatera Barat.
• Mollo: kerajaan di Timor Barat (Timor Loro Manu), pembentukan dari negara Netpala, Nunbena dan Besiana.
• Mori: kerajaan di Sulawesi Barat yang merdeka dari Ternate pada 1900.
• Mori: sebuah kerajaan di Sulawesi Tengah.
• Moutong: kerajaan di Sulawesi Utara.
• Mukih
• Musa: kerajaan bawahan kesultanan Aceh. Sebelumnya merupakan Federasi Hulubalang XII.


N

• Nage: kerajaan di kepulauan Flores, dibentuk tahun 1919 oleh penggabungan kerajaan Nage dan Keo.
• Naitemu: kerajaan di Timor Barat.
• Nanggulan: kerajaan yang dibentuk oleh Sultan Yogyakarta tahun 1831.
• Napu (Sulawesi): kerajaan di Sulawesi Tengah.
• Napu (Sumba): kerajaan di pulau Sumba.
• Ndao: satu dari 19 kerajaan di kelompok kerajaan di pulau Rote, Barat-daya dari Timor.
• Ndjohor
• Ndjong
• Ndona: kerajaan di kepulauan Flores.
• Nduri: kerajaan di kepulauan Flores.
• Nenometa, Nenomatan: Kerajaan di Timor Barat.
• Netpala: Kerajaan di Timor Barat.
• Ngada: kerajaan di kepulauan Flores.
• Nggela: kerajaan di kepulauan Flores.
• Nieuw Brussel
• Koto IX: Kerajaan di Timor Barat.
• Mukims Keumangan IX
• Nisam: kerajaan yang kurang lebih merupakan bawahan dari kesultanan Aceh, di wilayah Sumatra.
• Nita: kerajaan di kepulauan Flores.
• Njong
• Noimuti: Kerajaan di Timor Barat (Timor Loro Manu)
• Nokas
• Nunbena: Kerajaan di Timor Barat (Timor Loro Manu)
• Nusaniwe: dinasti turunan dari raja-raja Majapahit dari Jawa.

O
• OEnale: satu dari 19 kerajaan di Kepulauan Rote, barat daya Timor.
• Oenoe
• OEpao: satu dari 19 kerajaan di Kepulauan Rote, barat daya Timor. Didirikan tahun 1691.
• OndaE dan Pebato: kerajaan di Sulawesi Tengah. Bawahan dari kerajaan Posso.
• Ossipaka, atau Ossipoko

P
• Padang: sebuah kerajaan kota di Sumatera Barat, rajanya adalah Tuanku Suta Rajo Bujang yang memerintah pada tahun 1778, ia berasal dari Suku (sub-klan) Jambak, Padang.
• Padang Lawas: kerajaan di Sumatera Barat.
• Padang Tarab: kerajaan di Sumatera Barat.
• Pagaruyung: kerajaan yang lebih besar di Sumatera Barat.
• Pagatan: kerajaan kecil yang berdiri pada tahun 1775 sampai 1908 dan didirikan oleh imigran suku Bugis atas seijin Raja Banjar ke-8, Panembahan Batu yang menjadi koloni suku Bugis di Kalimantan Selatan.
• Pagurauan: kerajaan seluas 78 km² di Sumatera Timur.
• Pakualaman: kerajaan seluas 417.62 km² yang didirikan pada 22 Juni 1812 atau 17 Maret 1813 di Yogyakarta, Jawa Tengah.[17]
• Pajajaran: kerajaan di Jawa Barat.
• Pajang:
• Palalawan: lihat Pelalawan
• Palande: kerajaan di Sulawesi Tengah, bagian dari Posso.
• Palembang: kerajaan di tenggara Sumatera, didirikan oleh Aryo Damar, anak dari raja terakhir Majapahit. atau oleh Kiai Geding Surah.
• Palesang: kerajaan di dearah Tana Toraja, Sulawesi Selatan.
• Palu: kerajaan kota di Sulawesi Tengah, didirikan pada 1650.
• Pamecutan
• Pameue: kerajaan bawahan kesultanan Aceh.
• Panai: kerajaan seluas 561 km² di Sumatera Timur.
• Pandai: kerajaan di bagian barat laut pulau Pantar.
• Panei: kerajaan di Sumatera Timur, didirikan pada tahun 1700-an.
• Pangkajene: kerajaan kota di Makassar, Sulawesi Selatan.
• Pante Raja: kerajaan bawahan kesultanan Aceh, di daerah Meureudu, Sumatera. Sebelumnya merupakan bagian dari Federasi Hulubalang XII.
• Papekat: kerajaan merdeka di pulau Sumbawa sejak 1676, Papekat hancur oleh letusan Gunung Tambora tahun 1815.
• Pappa: kerajaan kota di Makassar, Sulawesi Selatan.
• Pariangang: kerajaan di Sulawesi Selatan, dibentuk pada 1667.
• Parigi: kerajaan di Sulawesi Selatan.
• Partangang
• Pasangan: kerajaan bawahan kesultanan Aceh.
• Pasir: kerajaan di Kalimantan Timur, negara sudah terbentuk sejak lama sampai pemerintahan jatuh pada satu Panembahan yang kemudian mengambil gelar Sultan.[18]
• Pasisir
• Passi: kerajaan di Timor Barat (Timor Loro Manu).
• Pate, Patih: kerajaan bawahan kesultanan Aceh.
• Patipi: kerajaan di timur Papua.
• Pebato
• Pedada
• Pedawa Rajut, Pedawa Besar: kerajaan bawahan kesultanan Aceh.
• Pedir
• Pelalawan atau Palalawan: kerajaan seluas 12.168 km² di Sumatera Timur, didirikan pada 1811, awalnya bergantung pada kesultanan Johor kemudian kesultanan Siak.[19]
• Peliatan: kerajaan bagian dari Bali.
• Pembuang: kerajaan di daerah Mandar, Sulawesi Barat.
• Perbaungan: kerajaan seluas 83 km² di Sumatera Timur.
• Percut, Pertjut: kerajaan seluas 103,83 km² di Sumatera Timur.
• Perlak: kerajaan yang terletak di Peureulak, Aceh Timur.
• Pesisir: kerajaan seluas 14,25 km² di Sumatera Timur.
• Petiambang: kerajaan bawahan kesultanan Aceh.
• Peudawa Rajeu
• Peuduek
• Peukan Baro-Peukan Shot
• Peurala: kerajaan bawahan kesultanan Aceh.
• Peusangan
• Peutu, Peutue: kerajaan bawahan kesultanan Aceh.
• Pidie: kerajaan bawahan kesultanan Aceh, di daerah Sigli, Sumatera.
• Pinangawan
• Pinatih
• Pineueng dan Peukan Baro-Beukan Shot: kerajaan bawahan kesultanan Aceh, di daerah Sigli, Sumatera.
• Pontianak: kerajaan yang dibentuk di Kalimantan Barat pada tahun 1771.[20]
• Pucu Rantau Indragiri: kerajaan di Sumatera Barat.
• Puengga: kerajaan di Sulawesi Selatan, yang dibentuk pada 1667.
• Pulau Kaju: kerajaan bawahan kesultanan Aceh.
• Pulaunas: kerajaan bawahan kesultanan Aceh.
• Pulau Punjung: kerajaan di Sumatera Barat.
• Pulo Kajee: kerajaan bawahan kesultanan Aceh
• Pulu Laut: kerajaan di Kalimantan Selatan.
• Purba: kerajaan di Sumatera Timur.
• Pureman: kerajaan di pulau Alor yang kemudian oleh Belanda pada tahun 1917 digabung lagi ke Erana dan tahun 1932 ke Kolana.
• Puumbolo

R

• Raijua: kerajaan di pulau Raijua di daerah kepulauan Sawu.
• Raja: kerajaan di Sumatera Timur.
• Rambah: kerajaan kota di Sumatera Timur.
• Randjoea
• Rano: kerajaan di Tana Toraja, Sulawesi Selatan.
• Konfederasi Rantau Kwantan, Federasi Rantau
• Rapang: kerajaan di daerah Bugis, Sulawesi Selatan.
• Rebeh: kerajaan bawahan Kesultanan Aceh, di daerah Sigli, Sumatera. kerajaan ini merupakan bagian dari Federasi Hulubalang XII.
• Rende, Rendi: kerajaan di Pulau Sumba.
• Reubeë
• Riau: kesultanan di Riau, yang rajanya berasal dari keturunan penguasa Luwu.[21]
• Rigaih, Rigas: kerajaan bawahan Kesultanan Aceh.
• Rindau
• Ringgouw: satu dari 19 kerajaan di Kepulauan Rote, barat daya Pulau Timor, didirikan pada 1691.
• Riung: kerajaan kota di Pulau Flores.
• Rokan Kiri: kerajaan di Sumatera Timur.
• Rote: kepulauan di barat daya Pulau Timor, sebuah federasi bentukan Belanda yang terdiri dari 19 kerajaan. Federasi terbentuk dari 1928 sampai 1948.
• Rumbati: kerajaan kota di timur Papua.

S

• Sabak: kerajaan kuno di Jambi.
• Sabamban: kerajaan di Kalimantan.
• Sadurangas: lihat Pasir
• Salakanagara: kerajaan kota yang disebut Argyre oleh Ptolemeus pada tahun 150 M, terletak di daerah Teluk Lada, Pandeglang.
• Salang: kerajaan di Pulau Simeulue, daerah Sumatera.
• Salaparang
• Salawati: kerajaan di Barat Laut Irian Jaya di Pulau Salawati.
• Salimbouw
• Samadua, Samaduwa: kerajaan bawahan Kesultanan Aceh.
• Sama Indra dan Lhok Kaju: kerajaan bawahan Kesultanan Aceh, di daerah Sigli. kerajaan ini sebelumnya bagian dari Federasi Hulubalang VI.
• Samakuro, Samakurok, Samakuru: kerajaan bawahan Kesultanan Aceh.
• Samalanga: kerajaan bawahan Kesultanan Aceh.
• Sambaliung: kerajaan di Kalimantan Timur, dibentuk dari Kesultanan Berau, berpisah tahun 1830 menjadi dua kerajaan.
• Sambas: kerajaan di Kalimantan Barat, yang berdiri pada akhir abad ke-16.[22]
• Sampanahan: kerajaan di Kalimantan Selatan.
• Samprangan: kerajaan di Bali yang ditaklukkan Majapahit.
• Samudera Pasai: kerajaan Islam yang terletak di pesisir pantai utara Sumatera, berdiri tahun 1267 dan dikuasai oleh Portugis pada tahun 1521.
• Sangalla: satu dari tiga kerajaan utama di daerah Tana Toraja, Sulawesi Selatan.
• Sanggar: kerajaan di Pulau Sumbawa. Sanggar kehilangan sebagian besar penduduknya pada saat meletusnya Gunung Tambora pada tahun 1815.
• Sanggau: kerajaan di Kalimantan Barat.
• Sanrabone, Sanra Boni: kerajaan di daerah Makassar, Sulawesi Selatan.
• Sarinembah: kerajaan di Sumatera Timur.
• Sasak
• Sausu: kerajaan di Sulawesi Tengah.
• Sawang: kerajaan bawahan Kesultanan Aceh.
• Sawiti: kerajaan di daerah Bugis, Sulawesi Selatan.
• Sawu
• Seba: kerajaan di Pulau Sawu.
• Segeri: kerajaan di daerah Makassar, Sulawesi Selatan, yang dibentuk pada tahun 1776.
• Sekadau: kerajaan di Kalimantan Barat.
• Sekala Brak: kerajaan di kaki Gunung Pesagi, Lampung. merupakan cikal-bakal suku Lampung saat ini.
• Sekar: kerajaan di timur Papua.
• Selesse: kerajaan seluas 70.48 km² di Sumatera Timur.
• Selimbau: kerajaan di Pegunungan Kapuas, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, didirikan tahun 800-an oleh Guntur Badju Binduh yang menurut legenda berasal dari surga.
• Senaam
• Senagan
• Senembah: kerajaan seluas 114.42 km² di Sumatera Timur.
• Serang: kerajaan seluas 4,584 km², dengan penduduk kurang lebih 80.000 jiwa di Pulau Sumbawa yang berdiri tahun 1650. kerajaan didirikan kembali pada tahun 1837 setelah meletusnya Gunung Tambora tahun 1815.
• Serbeujadi Aboq, Serbojadi Aboq: kerajaan bawahan Kesultanan Aceh.
• Serdang: kerajaan di Sumatera Timur, merdeka dari Siak pada 16 Agustus 1862.[23]
• Serebo Jadi
• Seunagan: kerajaan di daerah Sumatera. Jajahan dari kerajaan Kawai XVI atau Meulaboh.
• Seuneuam: kerajaan bawahan Kesultanan Aceh.
• Siah Utama: kerajaan bawahan Kesultanan Aceh.
• Siak Sri Inderapura: kerajaan seluas 16.224 km² dan berpenduduk kurang lebih 25.000 jiwa di Sumatera Timur, didirikan pada 1716.[24]
• Siantar: kerajaan di Sumatera Timur.
• Siau: kerajaan pulau di Sulawesi Utara, didirikan pada 1521.
• Sidenreng: kerajaan di daerah Bugis, Sulawesi Selatan.
• Sigenti: kerajaan di Sulawesi Tengah.
• Sigi, Sigi Birumaru, Sigi Dolo: kerajaan di Sulawesi Tengah, didirikan pada 1650.
• Sigulai: kerajaan di Pulau Simeulue, daerah Sumatera.
• Si Guntur: kerajaan di Sumatera Barat.
• Sikijang: kerajaan kota di Sumatera Timur.
• Sikka: kerajaan seluas 4.377 km² dengan penduduk 120.000 orang di Pulau Flores.
• Silat: kerajaan di Kalimantan Barat.
• Silawang: kerajaan di Kalimantan Barat.
• Silebar: kerajaan di Sumatera Barat.
• Si Lima Kuta: kerajaan di Sumatera Timur.
• Simaloer, Simalur: kerajaan di Pulau Simeulue, di daerah Sumatera.
• Simbuang: kerajaan di Tana Toraja, Sulawesi Selatan.
• Simeulue: kerajaan di Pulau Simeulue.
• Simpang: kerajaan di Kalimantan Barat, berpisah dengan Sukadana pada pertengahan abad ke-18.
• Simpang Olim, Simpangulim: kerajaan yang ditemukan tahun 1836, kurang lebih merupakan bawahan dari kesultanan Aceh, di wilayah Sumatra.
• Singgere: kerajaan di Sulawesi Selatan.
• Singhasari: kerajaan yang dibentuk oleh Ken Arok, di Jawa Timur pada tahun 1222.
• Singingi dan Loras: kerajaan seluas 135 km² di Sumatera Timur.
• Singkawang: kerajaan di Kalimantan Barat.
• Sintang: kerajaan di Kalimantan Barat.[25]
• Si Pare Pare, Si Pari Pari: kerajaan seluas 51 km² di Sumatera Timur.
• Sirimau
• Soasiu
• Soengai Ijoe
• Soetrana
• Solo: (lihat Surakarta)
• Solor: kerajaan di Pulau Solor, kemudian berpisan menjadi 2 kerajaan yaitu Lamakera dan Lohayong atau Lawajong.
• Sonbai Kecil: kerajaan di Timor Barat.
• Soppeng: kerajaan di daerah Bugis, Sulawesi Selatan, didirikan pada 1609.
• Soya: Dinasti keturuan dari Raja Majapahit. Tiga bersaudara mendirikan kerajaan Soya, di puncak Gunung Sirimau di Nusaniwe.
• Sri Indrapura
• Sriwijaya: kerajaan Buddha yang berpusat di Palembang, berkuasa dari abad ke-7 sampai ke-9.
• Stabat: kerajaan seluas 5.18 km² di Sumatera Timur.
• Suhaid: kerajaan di Kalimantan Barat.
• Suka: kerajaan di Sumatera Timur.
• Sukadana: kerajaan di Kalimantan Barat, didirikan pada akhir abad ke-15 oleh utusan Majapahit.
• Sukudua: kerajaan seluas 51 km² di Sumatera Timur, kemudian bergabung dengan Boga untuk membentuk kerajaan Boga Sukudua.
• Suli: kerajaan di selatan daerah Hitu, Pulau Ambon, Maluku.
• Sulu: kerajaan yang pernah ada di Kalimantan bagian utara, menguasai daerah Sabah dan sekitarnya, saat ini sebagian wilayah kerajaan tersebut menjadi Provinsi Sulu, Filipina.
• Sumbawa: kerajaan seluas 4.584 km² dengan penduduk 80,000 orang di Pulau Sumbawa yang didirikan pada 1650. kerajaan dibangun kembali pada tahun 1837 setelal letusan Gunung Tambora tahun 1815.
• Sumedang Larang: kerajaan Islam yang diperkirakan berdiri sejak abad ke-15 di Jawa Barat.
• Sunda dan Galuh: dua kerajaan yang merupakan pecahan dari Kerajaan Tarumanagara.
• Sungai Kunit: kerajaan di Sumatera Barat.
• Sungai Lemau: kerajaan di Sumatera Barat.
• Sungairaya
• Sungei Iju: kerajaan bawahan Kesultanan Aceh, di daerah Tamiang, Sumatera.
• Sungei Tras
• Sunggal: kerajaan seluas 3.98 km² di Sumatera Timur.
• Sungu Raja: kerajaan bawahan Kesultanan Aceh.
• Supiori: kerajaan di Pulau Biak, Irian Jaya. Stephen Wanda menyatakan dirinya sendiri sebagai Raja Supiori.
• Suppa: kerajaan seluas 225 km² dengan penduduk 5.500 orang (1917) di Sulawesi Tengah.
• Surakarta: kerajaan seluas 3.635 km² di Jawa Tengah, didirikan pada 1755 setelah kesultanan Mataram berpisah menjadi dua kerajaan.[26]
• Suroaso: kerajaan di Sumatera Barat, dekat dengan Pagaruyung. Raja terakhir Suroaso adalah Sutan Kerayahan Alam yang terlibat dalam Persekutuan dengan Belanda dan Kerajaan Inggris pada tahun 1824.
• Susoh, Susuh: kerajaan bawahan Kesultanan Aceh.
• Sutan Muda: kerajaan bawahan Kesultanan Aceh, di daerah Tamiang.
• Sutrana: kerajaan di Timor Barat (Timor Loro Manu), daerah selatan dari Oecussi Ambeno dengan sejarah yang saling berkaitan.

T
• Tabanan: kerajaan yang didirikan setelah keruntuhan Majapahit, setelah Dewa Agung Ketut, penguasa Bali dan Lombok membagi kerajaannya menjadi beberapa kerajaan.
• Tabukan: kerajaan di Pulau Sangir di Sulawesi Utara, didirikan pada 1521.
• Tabundung: kerajaan di Pulau Sumba.
• Tado: kerajaan di Pulau Flores.
• Taebenu: kerajan di Timor Barat (Timor Loro Manu).
• Tafnai: kerajaan di Timor Barat (Timor Loro Manu).
• Tagulandang: kerajaan yang didirikan pada 1521 di Pulau Sangir di Sulawesi Utara.
• Tahuna: kerajaan di Pulau Sangir, Sulawesi Utara, yang didirikan pada 1521 dan menjadi kabupaten dari Kendahe Tahuna.
• Takaip Ebbenoni: kerajaan di Timor Barat (Timor Loro Manu). Bergabung dengan kerajaan Fatu Leu.
• Takaip Thaiboko: kerajaan di Timor Barat (Timor Loro Manu). Bergabung dengan kerajaan Fatu Leu.
• TalaE: satu dari 19 kerajaan di Kepulauan Roate, barat daya Timor.
• Talaud: kerajaan yang didirikan pada 1521 di Pulau Talaud, Sulawesi Utara.
• Taleong, Taliang: kerajaan di daerah Tana Toraja, Sulawesi Selatan.
• Taliwang
• Tallo: kesultanan di Sulawesi Selatan, yang merupakan sekutu terdekat Gowa.[27]
• Talo: kerajaan di Sumatera Barat.
• Tambora: kesultanan di Pulau Sumbawa yang hancur pada tahun 1815 akibat letusan Gunung Tambora.
• Tambusei: kerajaan di Sumatera Timur.
• Tampat Tuan
• Tanah Datar: kerajaan seluas 79.5 km² di Sumatera Timur.
• Tanah Jawa: kerajaan di Sumatera Timur.
• Tanah Kunu V: kerajaan di Pulau Flores.
• Tanahputih: kerajaan kota seluas 633 km² di Sumatera Timur.
• Tanah Rea: kerajaan di Pulau Flores.
• Tanah Riung: kerajaan di Pulau Sumba.
• Tanette: kerajaan di daerah Bugis, Sulawesi Selatan.
• Tangse: kerajaan bawahan Kesultanan Aceh.
• Tanjongseumanto dan Meureubok: kerajaan bawahan Kesultanan Aceh.
• Tanjung (Kalimantan)
• Tanjung (Sumatera): kerajaan di Sumatera Timur.
• Tanjung Kassau: kerajaan di Sumatera Timur.
• Tanjungpura: kerajaan di Kalimantan Barat.
• Tapalang: kerajaan di daerah Mandar, Sulawesi Selatan.
• Tapaktuan: kerajaan bawahan Kesultanan Aceh.
• Tapparang: kerajaan di daerah Tana Toraja, Sulawesi Selatan.
• Konfederasi Tapung Kanan Urung
• Tarumanagara: kerajaan hindu beraliran wisnu, yang berkuasa di Jawa Barat pada abad ke-4 hingga ke-7.
• Tarumon
• Taruna
• Tasik
• Tawaeli: kerajaan kota di Sulawesi Tengah yang didirikan pada 1667.
• Tawanga: kerajaan di Sulawesi Selatan.
• Tayan: kerajaan di Kalimantan Barat, berpisah dengan Meliau pada tahun 1762.
• Tedore
• Tefnai: kerajaan di Timor Barat (Timor Loro Manu).
• Telok Semawe
• Tembusai
• Tenom
• Termanu: satu dari 19 kerajaan di kepulauan Rote, barat daya Timor.
• Ternate: kerajaan seluas 65 km² di Maluku, yang didirikan pada abad ke-13 oleh orang-orang dari Djaïlolo (sekarang Jailolo). Ternate menjadi kerajaan utama di Maluku pada tahun 1380 melebihi Djailolo.[28]
• Terong: kerajaan di selatan Pulau Adonara.
• Teunom: kerajaan bawahan Kesultanan Aceh.
• Teupah: kerajaan di Pulau Simeulue, barat Sumatera.
• Thie: satu dari 19 kerajaan di kepulauan Rote, barat daya Timor. Dari 1730 sampai 1756, Manek dari Thie pergi bersama Maneks dari OEpao, Loleh, Baa dan Lelain ke Jawa untuk mempelajari lebih lanjut agama kristen.
• Tidore: kerajaan seluas 78 km² di Maluku Utara yang didirikan oleh orang-orang dari Djaïlolo (sekarang Jailolo) di Pulau Tidore.
• Tidung: Kalimantan Timur yang didirikan oleh orang-orang dari Dynasti Tengara (Tarakan).
• Tiga Mukims Gighen
• Tiga Mukims Klumpang Pajong
• Timu: kerajaan di daerah Pulau Sawu.
• Titeue: kerajaan bawahan Kesultanan Aceh, sebelumnya merupakan bagian dari Federasi Hulubalang XII.
• Tjeranti: kerajaan di Sumatera Timur, dibentuk dari pemisahan Kuantan menjadi 5 negara.
• Tjereweh
• Tjingal: kerajaan di Kalimantan Timur.
• Tjinta Raja: kerajaan seluas 11.95 km² di Sumatera Timur.
• Tjirebon (lihat Kesultanan Cirebon)
• Tjumbok
• Tjunda: kerajaan bawahan kesultanan Aceh.
• Tobaku: kerajaan di Sulawesi Tengah.
• Tohe: kerajaan di Timor Barat.
• Tojo: kerajaan di Pulau Togian, Sulawesi Tengah.
• Toli Toli: kerajaan di Sulawesi Utara. Dinasti Toli Toli tersambung juga dengan dinasti Buol.
• Tomini: kerajaan di Sulawesi Tengah.
• Topejawa: kerajaan kota di daerah Makassar, Sulawesi Selatan.
• Toribulu: kerajaan di Sulawesi Tengah.
• Trienggadeng: kerajaan bawahan kesultanan Aceh, di daerah Meureudu, Sumatera.
• Tripa, Tripah: kerajaan di Sumatera, jajahan dari Kawai XVI.
• Trong
• Trumon atau Tarumon: kerajaan bawahan Kesultanan Aceh yang dibentuk pada 1795.[29]
• Truseb: kerajaan bawahan kesultanan Aceh, yang sebelumnya merupakan bagian dari Federasi Hulubalang XII.
• Tulang Bawang: kerajaan hindu di daerah Tulang Bawang, Lampung.
• Tungkob: kerajaan bawahan Kesultanan Aceh.
• Turateya
• Turing: kerajaan di Pulau Flores.

U
• Ubud: suatu keluarga raja dari Gianyar, di tenggara Bali.
• Ulu Tesso: kerajaan di Sumatera Timur. Kemudian menjadi Federasi Rantau.
• Umaclaran: kerajaan di Timor Barat
• Umassopoko
• Umbu Ratu Nggay: kerajaan di Pulau Sumba.
• Una Una: kerajaan di Pulau Togian di Sulawesi Tengah, didirikan abad ke-17.
• Unga: kerajaan bawahan Kesultanan Aceh.
• Ujung Pandang
• Unu

W
• Waai: kerajaan di Barat daya Ambon, Maluku.
• Waigama: kerajaan di Pulau Misool, barat Papua.
• Waigeo: kerajaan di barat Papua.
• Waihale
• Waijelu: kerajaan di Pulau Sumba.
• Waijewa: kerajaan di Pulau Sumba.
• Waila
• Waiwiku Waihale: negara independen atau semi-independen di Timor Barat (Timor Loro Manu).
• Wajo: kerajaan yang didirikan pada 1450 oleh pengungsi dari Luwu di daerah Bugis, Sulawesi Selatan.
• Wanokaka: kerajaan di Pulau Sumba.
• Watlaar: kerajaan di Maluku.
• Wertuar: kerajaan di timur Papua.
• Wojila: kerajaan di daerah Sumatra.
• Wolijita: kerajaan di Pulau Flores.

Y
• Yogyakarta: tahun 1755, Kesultanan Mataram di Jawa Tengah terpisah menjadi dua kerajaan, yaitu Yogyakarta dan Surakarta.
• Yotowawa

Sejarah Nusantara pada Era Kerajaan Hindu-Buddha

Sejarah Nusantara pada Era
Kerajaan Hindu-Buddha

Indonesia mulai berkembang pada zaman kerajaan Hindu-Buddha berkat hubungan dagang dengan negara-negara tetangga maupun yang lebih jauh seperti India, China dan wilayah Timur Tengah. Agama Hindu masuk ke Indonesia diperkirakan pada awal Tarikh Masehi, dibawa oleh para musafir dari India antara lain: Maha Resi Agastya yang di Jawa terkenal dengan sebutan Batara Guru atau Dwipayana dan juga para musafir dari Tiongkok yakni Musafir Budha Pahyien.
Dua kerajaan besar pada zaman ini adalah Sriwijaya dan Majapahit. Pada masa abad ke-7 hingga abad ke-14, kerajaan Buddha Sriwijaya berkembang pesat di Sumatra. Penjelajah Tiongkok I-Tsing mengunjungi ibukotanya Palembang sekitar tahun 670. Pada puncak kejayaannya, Sriwijaya menguasai daerah sejauh Jawa Barat dan Semenanjung Melayu. Abad ke-14 juga menjadi saksi bangkitnya sebuah kerajaan Hindu di Jawa Timur, Majapahit. Patih Majapahit antara tahun 1331 hingga 1364, Gajah Mada berhasil memperoleh kekuasaan atas wilayah yang kini sebagian besarnya adalah Indonesia beserta hampir seluruh Semenanjung Melayu. Warisan dari masa Gajah Mada termasuk kodifikasi hukum dan dalam kebudayaan Jawa, seperti yang terlihat dalam wiracarita Ramayana.
Masuknya Islam pada sekitar abad ke-12 secara perlahan-lahan menandai akhir dari era ini.
Alur waktu

300 - Indonesia telah melakukan hubungan dagang dengan India Hubungan dagang ini mulai intensif abad ke-2 M. Memperdagangkan barang-barang dalam pasaran internasional misalnya: logam mulia, perhiasan, kerajinan, wangi-wangian, obat-obatan. Dari sebelah timur Indonesia diperdagangkan kayu cendana, kapur barus, cengkeh. Hubungan dagang ini memberi pengaruh yang besar dalam masyarakat Indonesia, terutama dengan masuknya ajaran Hindu dan Budha, pengaruh lainnya terlihat pada sistem pemerintahan.

300 - Telah dilakukannya hubungan pelayaran niaga yang melintasi Tiongkok. Dibuktikan dengan perjalanan dua pendeta Budha yaitu Fa Shien dan Gunavarman. Hubungan dagang ini telah lazim dilakukan, barang-barang yang diperdagangkan kemenyan, kayu cendana, hasil kerajinan.

400 - Hindu dan Budha telah berkembang di Indonesia dilihat dari sejarah kerajaan-kerajaan dan peninggalan-peninggalan pada masa itu antara lain candi, patung dewa, seni ukir, barang-barang logam.

671 - Seorang pendeta Budha dari Tiongkok, bernama I-Tsing berangkat dari Kanton ke India. Ia singgah di Sriwijaya untuk belajar tatabahasa Sansekerta, kemudian ia singgah di Melayu selama dua bulan, dan baru melanjutkan perjalanannya ke India.

685 - I-Tsing kembali ke Sriwijaya, disini ia tinggal selama empat tahun untuk menterjemahkan kitab suci Budha dari bahasa Sansekerta ke dalam bahasa Tionghoa.

692 - Salah satu kerajaan Hindu di Indonesia yaitu Sriwijaya tumbuh dan berkembang menjadi besar dan pusat perdagangan yang dikunjungi pedagang Arab, Parsi, Tiongkok. Yang diperdagangkan antara lain tekstil, kapur barus, mutiara, rempah-rempah, emas, perak. Sebagian dari Semenanjung Malaya, Selat Malaka, Sumatera Utara, Sunda, Jambi termasuk kekuasaaan Sriwijaya. Pada masa ini perkembangan kerajaan Sriwijaya berkaitan dengan masa ekspansi Islam di Indonesia dalam periode permulaan. Sriwijaya dikenal juga sebagai kerajaan maritim.

922 - Dari sebuah laporan tertulis diketahui seorang musafir Tiongkok telah datang kekerajaan Kahuripan di Jawa Timur dan maharaja Jawa telah menghadiahkan pedang pendek berhulu gading berukur pada kaisar Tiongkok.

1292 - Musafir Venesia, Marco Polo singgah di bagian utara Aceh dalam perjalanan pulangnya dari Tiongkok ke Persia melalui laut. Marco Polo berpendapat bahwa Perlak merupakan sebuah kota Islam.

1345-1346 - Musafir Maroko, Ibn Battuta melewati Samudra dalam perjalanannya ke dan dari Tiongkok. Diketahui juga bahwa Samudra merupakan pelabuhan yang sangat penting, tempat kapal-kapal dagang dari India dan Tiongkok. Ibn Battuta mendapati bahwa penguasa Samudra adalah seorang pengikut Mahzab Syafi'i salah satu ajaran dalam Islam.

1350-1389 - Puncak kejayaan Majapahit dibawah pimpinan Raja Hayam Wuruk dan patihnya Gajah Mada. Majapahit menguasai seluruh kepulauan Indonesia bahkan Jazirah Malaka sesuai dengan "sumpah Palapa" Gajah Mada yang ingin Nusantara bersatu.


Kerajaan Hindu/Buddha
Kerajaan Kutai
Kerajaan Kalingga
Kerajaan Kediri
Kerajaan Singhasari
Kerajaan Majapahit
Kerajaan Pajajaran
Kerajaan Mataram (Hindu)
Kerajaan Melayu Tua - Jambi
Kerajaan Sunda
Kerajaan Sriwijaya
Kerajaan Tarumanagara


Kerajaan Kutai Martadipura
Kutai Martadipura adalah kerajaan tertua bercorak Hindu di Nusantara dan seluruh Asia Tenggara. Kerajaan ini terletak di Muara Kaman, Kalimantan Timur, tepatnya di hulu sungai Mahakam. Nama Kutai diambil dari nama tempat ditemukannya prasasti yang menggambarkan kerajaan tersebut. Nama Kutai diberikan oleh para ahli karena tidak ada prasasti yang secara jelas menyebutkan nama kerajaan ini. Karena memang sangat sedikit informasi yang dapat diperoleh akibat kurangnya sumber sejarah.

Yupa
Informasi yang ada diperoleh dari Yupa / Tugu dalam upacara pengorbanan yang berasal dari abad ke-4. Ada tujuh buah yupa yang menjadi sumber utama bagi para ahli dalam menginterpretasikan sejarah Kerajaan Kutai. Dari salah satu yupa tersebut diketahui bahwa raja yang memerintah kerajaan Kutai saat itu adalah Mulawarman. Namanya dicatat dalam yupa karena kedermawanannya menyedekahkan 20.000 ekor lembu kepada brahmana.

Mulawarman
Mulawarman adalah anak Aswawarman dan cucu Kudungga. Nama Mulawarman dan Aswawarman sangat kental dengan pengaruh bahasa Jerman bila dilihat dari cara penulisannya. Kudungga adalah pembesar dari Kerajaan Campa (Kamboja) yang datang ke Indonesia. Kudungga sendiri diduga belum menganut agama Budha

Aswawarman
Aswawarman mungkin adalah raja pertama Kerajaan Kutai yang bercorak Hindu. Ia juga diketahui sebagai pendiri dinasti Kerajaan Kutai sehingga diberi gelar Wangsakerta, yang artinya pembentuk keluarga. Aswawarman memiliki 3 orang putera, dan salah satunya adalah Mulawarman.
Putra Aswawarman adalah Mulawarman. Dari yupa diketahui bahwa pada masa pemerintahan Mulawarman, Kerajaan Kutai mengalami masa keemasan. Wilayah kekuasaannya meliputi hampir seluruh wilayah Kalimantan Timur. Rakyat Kutai hidup sejahtera dan makmur.


Huruf Palawa – Kerajaan Kutai

Kerajaan Kutai seakan-akan tak tampak lagi oleh dunia luar karena kurangnya komunikasi dengan pihak asing, hingga sangat sedikit yang mendengar namanya. Bahkan, di tahun 1365, sastra Jawa Negarakartagama hanya menyebutkannya secara sepintas lalu.

Berakhir
Kerajaan Kutai berakhir saat Raja Kutai yang bernama Maharaja Dharma Setia tewas dalam peperangan di tangan Raja Kutai Kartanegara ke-13, Aji Pangeran Anum Panji Mendapa. Perlu diingat bahwa Kutai ini (Kutai Martadipura) berbeda dengan Kesultanan Kutai Kartanegara. Kutai Kartanegara adalah kesultanan Islam.

Nama-Nama Raja Kutai
1. Maharaja Kudungga
2. Maharaja Asmawarman
3. Maharaja Irwansyah
4. Maharaja Sri Aswawarman
5. Maharaja Marawijaya Warman
6. Maharaja Gajayana Warman
7. Maharaja Tungga Warman
8. Maharaja Jayanaga Warman
9. Maharaja Nalasinga Warman
10. Maharaja Nala Parana Tungga
11. Maharaja Gadingga Warman Dewa
12. Maharaja Indra Warman Dewa
13. Maharaja Sangga Warman Dewa
14. Maharaja Singsingamangaraja XXI
15. Maharaja Candrawarman
16. Maharaja Prabu Nefi Suriagus
17. Maharaja Ahmad Ridho Darmawan
18. Maharaja Riski Subhana
19. Maharaja Sri Langka Dewa
20. Maharaja Guna Parana Dewa
21. Maharaja Wijaya Warman
22. Maharaja Indra Mulya
23. Maharaja Sri Aji Dewa
24. Maharaja Mulia Putera
25. Maharaja Nala Pandita
26. Maharaja Indra Paruta Dewa
27. Maharaja Dharma Setia


Kerajaan Kalingga

Kalingga adalah sebuah kerajaan bercorak Hindu di Jawa Tengah, yang pusatnya berada di daerah Kabupaten Jepara sekarang. Kalingga telah ada pada abad ke-6 Masehi dan keberadaannya diketahui dari sumber-sumber Tiongkok. Kerajaan ini pernah diperintah oleh Ratu Shima, yang dikenal memiliki peraturan barang siapa yang mencuri, akan dipotong tangannya.
Putri Maharani Shima, PARWATI, menikah dengan putera mahkota Kerajaan Galuh yang bernama MANDIMINYAK, yang kemudian menjadi raja ke 2 dari Kerajaan Galuh.
Maharani Shima memiliki cucu yang bernama Sanaha yang menikah dengan raja ke 3 dari Kerajaan Galuh, yaitu Bratasenawa. Sanaha dan Bratasenawa memiliki anak yang bernama Sanjaya yang kelak menjadi raja Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh (723-732M).
Setelah Maharani Shima mangkat di tahun 732M, Sanjaya menggantikan buyutnya dan menjadi raja Kerajaan Kalingga Utara yang kemudian disebut Bumi Mataram, dan kemudian mendirikan Dinasti / Wangsa Sanjaya di Kerajaan Mataram Kuno.
Kekuasaan di Jawa Barat diserahkannya kepada putranya dari Tejakencana, yaitu Tamperan Barmawijaya alias Rakeyan Panaraban.
Kemudian Raja Sanjaya menikahi Sudiwara puteri Dewasinga, Raja Kalingga Selatan atau Bumi Sambata, dan memiliki putra yaitu Rakai Panangkaran.

Kerajaan Kadiri/ Kediri

Kerajaan Kadiri atau Kediri adalah kerajaan yang bercorak Hindu di Jawa bagian timur, berdiri sekitar tahun 1045-1221 M. Nama-nama lainnya yang juga dikenal untuk menyebut kerajaan ini adalah Kerajaan Panjalu atau Kerajaan Dhaha.

Latar belakang
Kerajaan ini merupakan salah satu dari dua kerajaan pecahan Kahuripan pada tahun 1045 (satu lainnya adalah Janggala), yang dipecah oleh Airlangga untuk dua puteranya. Airlangga membagi Kahuripan menjadi dua kerajaan untuk menghindari perselisihan dua puteranya, dan ia sendiri turun tahta menjadi pertapa. Wilayah Kerajaan Kediri adalah bagian selatan Kerajaan Kahuripan.
Perkembangan
Tak banyak yang diketahui mengenai peristiwa di masa-masa awal Kerajaan Kediri. Raja Kameswara (1116-1136) menikah dengan Dewi Kirana, puteri Kerajaan Janggala. Dengan demikian, berakhirlah Janggala kembali dipersatukan dengan Kediri. Kediri menjadi kerajaan yang cukup kuat di Jawa. Pada masa ini, ditulis kitab Kakawin Smaradahana oleh Mpu Dharmaja, yang dikenal dalam kesusastraan Jawa dengan cerita Panji. Demikian pula Mpu Tanakung mengarang kitab Kakawin Lubdaka dan Wertasancaya.
Raja terkenal Kediri adalah Jayabaya (1135-1159). Jayabaya di kemudian hari dikenal sebagai "peramal" Indonesia masa depan. Pada masa kekuasaannya, Kediri memperluas wilayahnya hingga ke pantai Kalimantan. Pada masa ini pula, Ternate menjadi kerajaan subordinat di bawah Kediri. Waktu itu Kediri memiliki armada laut yang cukup tangguh. Beliau juga terkenal karena telah memerintahan penggubahan Kakawin Bharatayuddha, yang diawali oleh Mpu Sedah dan kemudian diselesaikan oleh Mpu Panuluh.
Raja Kertajaya yang memerintah (1185-1222), dikenal sebagai raja yang kejam, bahkan meminta rakyat untuk menyembahnya. Ini menyebabkan ia ditentang oleh para brahmana. Kertajaya adalah raja terakhir dari kerajaan Kadiri.
Penemuan Situs Tondowongso pada awal tahun 2007, yang diyakini sebagai peninggalan Kerajaan Kadiri diharapkan dapat membuka lebih banyak tabir misteri.

Runtuhnya Kadiri

Di Tumapel, wilayah bawahan Kadiri di daerah Malang, terjadi gejolak politik. Ken Arok membunuh penguasa Tumapel Tunggul Ametung, dan mendirikan Kerajaan Singhasari tahun 1222. Ken Arok lalu beraliansi dengan para brahmana dan berhasil memberontak terhadap Kadiri. Dengan hancurnya Kadiri dan meninggalnya Kertajaya, Kadiri kemudian menjadi wilayah bawahan Kerajaan Singhasari.

Raja-raja Kadiri
Berikut adalah nama-nama raja yang berkuasa di Kadiri:

• Sri Samarawijaya (1042-?) - adalah putra Airlangga yang menjadi raja pertama Kadiri
• Sri Jayawarsa (1104-1115) - tidak diketahui dengan pasti apakah ia pengganti langsung dari Samarawijaya atau bukan.
• Sri Bameswara (1116-1135)
• Sri Jayabaya (1135-1159) - raja pujangga dan terkenal dengan ramalannya Jangka Jayabaya
• Sri Sarweswara (1159-1161)
• Sri Aryeswara (1171-1174)
• Sri Gandra (1181)
• Kameswara (1182-1185)- terkenal di nusantara dalam cerita Panji
• Kertajaya (1185-1222) - adalah raja terakhir Kadiri

Kerajaan Singhasari


Kerajaan Singhasari atau sering pula ditulis Singasari, adalah kerajaan di Jawa Timur yang didirikan oleh Ken Arok pada tahun 1222. Lokasi kerajaan ini diperkirakan berada di daerah Singosari, Malang.

Nama Asli Singhasari
Berdasarkan prasasti Kudadu, sesungguhnya nama resmi Kerajaan Singhasari adalah Kerajaan Tumapel. Dalam Nagarakretagama disebutkan bahwa, ketika pertama kali didirikan tahun 1222, nama ibu kota Kerajaan Tumapel adalah Kutaraja.
Pada tahun 1254, Raja Wisnuwardhana mengangkat putranya yang bernama Kertanagara sebagai raja muda, dan mengganti nama ibu kota menjadi Singhasari. Nama Singhasari yang merupakan nama ibu kota justru kemudian lebih terkenal dari pada nama Tumapel.
Dalam berita Cina Kerajaan Tumapel sering disebut Tu-ma-pan.

Berdirinya Kerajaan Tumapel
Dalam naskah Pararaton disebutkan bahwa, Tumapel semula hanyalah sebuah daerah bawahan Kerajaan Kadiri. Akuwu (camat) Tumapel saat itu bernama Tunggul Ametung. Ia kemudian mati dibunuh pengawalnya sendiri yang bernama Ken Arok melalui suatu cara yang sangat licik. Ken Arok kemudian menjadi akuwu baru. Tidak hanya itu, Ken Arok bahkan berniat melepaskan Tumapel dari kekuasaan Kadiri.
Pada tahun 1222 terjadi perseteruan antara Kertajaya raja Kadiri melawan kaum brahmana. Para pendeta itu lalu menggabungkan diri dengan Ken Arok. Perang akhirnya terjadi antara pasukan Kadiri melawan pasukan Tumapel di desa Ganter. Pihak Kadiri kalah. Ken Arok lalu mengangkat diri sebagai raja pertama Tumapel bergelar Sri Rajasa Sang Amurwabhumi.
Naskah Nagarakretagama juga menyebut tahun yang sama untuk pendirian kerajaan Tumapel. Namun tidak dijumpai adanya nama Ken Arok. Dalam kitab karya Mpu Prapanca tersebut, pendiri kerajaan Tumapel bernama Ranggah Rajasa Sang Girinathaputra.
Prasasti Mula Malurung yang diterbitkan Kertanagara tahun 1255, menyebutkan kalau pendiri Kerajaan Tumapel adalah Bhatara Siwa. Mungkin ini adalah gelar anumerta dari Ranggah Rajasa, karena dalam Nagarakretagama arwah pendiri kerajaan Tumapel tersebut dipuja sebagai Siwa.
Raja-Raja Tumapel atau Singhasari

Terdapat perbedaan antara Pararaton dan Nagarakretagama dalam menyebutkan urutan raja-raja Singhasari.

Raja-raja Tumapel versi Pararaton adalah:
1. Ken Arok alias Rajasa Sang Amurwabhumi (1222-1247)
2. Anusapati (1247-1249)
3. Tohjaya (1249-1250)
4. Ranggawuni alias Wisnuwardhana (1250-1254)
5. Kertanagara (1254-1292)

Raja-raja Tumapel versi Nagarakretagama adalah:
1. Rangga Rajasa Sang Girinathaputra (1222-1227)
2. Anusapati (1227-1248)
3. Wisnuwardhana (1248-1254)
4. Kertanagara (1254-1292)

Kisah suksesi raja-raja Tumapel versi Pararaton diwarnai pertumpahan darah yang dilatari balas dendam. Ken Arok mati dibunuh Anusapati (anak tirinya). Anusapati mati dibunuh Tohjaya (anak Ken Arok dari selir). Tohjaya mati akibat pemberontakan Ranggawuni (anak Anusapati). Hanya Ranggawuni yang digantikan Kertanagara (putranya) secara damai.


Ken Dedes

Sementara itu dalam versi Nagarakretagama tidak diberitakan adanya pembunuhan antara raja pengganti terhadap raja sebelumnya. Hal ini dapat dimaklumi karena Nagarakretagama adalah kitab pijian untuk Hayam Wuruk raja Majapahit. Peristiwa berdarah yang menimpa leluhur Hayam Wuruk tersebut dianggap sebagai aib.

Di antara nama para raja di atas hanya Wisnuwardhana dan Kertanagara yang didapati menerbitkan prasasti sebagai bukti kesejarahan mereka. Prasasti Mula Malurung misalnya, ternyata menyebut Tohjaya sebagai raja bawahan di Kadiri, bukan raja Tumapel. Hal ini memperkuat kebenaran berita dalam Nagara kretagama.
Prasasti tersebut dikeluarkan oleh Kertanagara tahun 1255 selaku raja bawahan di Kadiri. Jadi, pemberitaan kalau Kertanagara naik takhta tahun 1254 perlu dibetulkan. Yang benar adalah, Kertanagara menjadi raja muda di Kadiri dahulu. Baru pada tahun 1268 atau 1270, ia bertakhta di Singhasari.

Pemerintahan Wisnuwardhana dan Narasingamurti
Dalam Nagarakretagama dikisahkan adanya pemerintahan bersama antara Wisnuwardhana dan Narasingamurti yang naik takhta pada tahun 1248. Dalam Pararaton disebutkan nama asli Narasingamurti adalah Mahisa Campaka.
Apabila kisah pembunuhan berdarah dalam Pararaton benar-benar terjadi, maka dapat dipahami maksud dari pemerintahan bersama ini adalah suatu upaya rekonsiliasi. Wisnuwardhana adalah cucu Tunggul Ametung sedangkan Narasingamurti adalah cucu Ken Arok.
Pemerintahan bersama antara Wisnuwardhana dan Narasingamurti yang digambarkan bagai Wisnu dan Indra itu merupakan suatu upaya untuk menghentikan perseteruan antara keluarga Tunggul Ametung dan Ken Arok yang telah menewaskan raja-raja sebelumnya.

Pemerintahan Kertanagara (1268 - 1292)
Kertanagara adalah raja terakhir dan raja terbesar dalam sejarah Singhasari (1268-1292). Ia adalah raja pertama yang mengalihkan wawasannya ke luar Jawa. Pada tahun 1275 ia mengirim pasukan Pamalayu untuk menjadikan pulau Sumatra sebagai benteng pertahanan dalam menghadapi kekuasaan Mongol. Pasukan itu mengalami kemenangan menaklukkan raja Kerajaan Melayu pada tahun 1286.
Pada tahun 1284, Kertanagara juga mengadakan ekspedisi penaklukan ke Bali, dan sejak itu Bali menjadi wilayah Kerajaan Singhasari. Pada tahun 1289 Kaisar Kubilai Khan mengirim utusan ke Singhasari untuk meminta agar Jawa mengakui kedaulatan Mongol. Namun permintaan itu ditolak tegas oleh Kertanagara.

Runtuhnya Kerajaan Tumapel - Singhasari
Kerajaan Singhasari yang sibuk mengirimkan pasukan perangnya ke luar Jawa akhirnya mengalami keropos pada bagian dalamnya. Pada tahun 1292 terjadi pemberontakan Jayakatwang bupati Gelang-Gelang. Ia adalah sepupu, sekaligus ipar, sekaligus pula besan dari Kertanagara. Dalam serangan itu Kertanagara mati terbunuh.
Setelah runtuhnya Singhasari, Jayakatwang membangun ibu kota baru di Kadiri.
Hubungan Singhasari dan Majapahit
Dikisahkan dalam Pararaton, Nagarakretagama, ataupun prasasti Kudadu, bahwa Raden Wijaya cucu Narasingamurti yang menjadi menantu Kertanagara lolos dari maut. Berkat bantuan Aria Wiraraja (penentang politik Kertanagara), ia kemudian diampuni oleh Jayakatwang dan diberi hak mendirikan desa Majapahit.
Pada tahun 1293 datang pasukan Mongol untuk menaklukkan Jawa. Mereka dimanfaatkan Raden Wijaya untuk mengalahkan Jayakatwang di Kadiri. Setelah Kadiri runtuh, Raden Wijaya dengan siasat cerdik ganti mengusir tentara Mongol keluar dari tanah Jawa.
Raden Wijaya kemudian mendirikan Kerajaan Majapahit dan menyatakan dirinya sebagai penerus Dinasti Rajasa, yaitu dinasti yang didirikan oleh Ken Arok.

Kerajaan Majapahit


Peta Kerajaan Majapahit

Majapahit adalah suatu kerajaan yang pernah berdiri dari sekitar tahun 1293 hingga 1500 M dan berpusat di pulau Jawa bagian timur. Kerajaan ini pernah menguasai sebagian besar pulau Jawa, Madura, Bali, dan banyak wilayah lain di Nusantara. Majapahit dapat dikatakan sebagai kerajaan terbesar di antara kerajaan Hindu-Buddha di Nusantara dan termasuk yang terakhir sebelum berkembang kerajaan-kerajaan bercorak Islam di Nusantara

Sumber catatan sejarah
Sumber utama yang digunakan oleh para sejarawan adalah Pararaton ('Kitab Raja-raja') dalam bahasa Kawi dan Nagarakretagama dalam bahasa Jawa Kuna. Pararaton terutama menceritakan Ken Arok (pendiri Kerajaan Singhasari) namun juga memuat beberapa bagian pendek mengenai terbentuknya Majapahit. Sementara itu, Nagarakertagama merupakan puisi Jawa Kuna yang ditulis pada masa keemasan Majapahit di bawah pemerintahan Hayam Wuruk. Setelah masa itu, hal yang terjadi tidaklah jelas. Selain itu, terdapat beberapa prasasti dalam bahasa Jawa Kuna maupun catatan sejarah dari Tiongkok dan negara-negara lain.

Keakuratan semua naskah berbahasa Jawa tersebut dipertentangkan. Tidak dapat disangkal bahwa sumber-sumber itu memuat unsur non-historis dan mitos. Namun demikian, garis besar sumber-sumber tersebut sejalan dengan catatan sejarah dari Tiongkok. Khususnya, daftar penguasa dan keadaan kerajaan ini tampak cukup pasti.
Sejarah Berdirinya Majapahit

Sesudah Singhasari mengusir Sriwijaya dari Jawa secara keseluruhan pada tahun 1290, kekuasaan Singhasari yang naik menjadi perhatian Kubilai Khan di China dan dia mengirim duta yang menuntut upeti. Kertanagara penguasa kerajaan Singhasari menolak untuk membayar upeti dan Khan memberangkatkan ekspedisi menghukum yang tiba di pantai Jawa tahun 1293. Ketika itu, seorang pemberontak dari Kediri bernama Jayakatwang sudah membunuh Kertanagara. Kertarajasa atau Raden Wijaya, yaitu anak menantu Kertanegara, kemudian bersekutu dengan orang Mongol untuk melawan Jayakatwang. Setelah Jayakatwang dikalahkan, Raden Wijaya berbalik menyerang sekutu Mongolnya sehingga memaksa mereka menarik pulang kembali pasukannya secara kalang-kabut.
Pada tahun 1293 itu pula Raden Wijaya membangun daerah kekuasaannya di tanah perdikan daerah Tarik, Sidoarjo, dengan pusatnya yang diberi nama Majapahit. Ia dinobatkan dengan nama resmi Kertarajasa Jayawarddhana.

Kejayaan Majapahit
Penguasa Majapahit paling utama ialah Hayam Wuruk, yang memerintah dari tahun 1350 hingga 1389. Pada masanya, keraton Majapahit diperkirakan telah dipindahkan ke Trowulan (sekarang masuk wilayah Mojokerto).
Gajah Mada, seorang patih dan bupati Majapahit dari 1331 ke 1364, memperluas kekuasaan kekaisaran ke pulau sekitarnya. Pada tahun 1377, yaitu beberapa tahun sesudah kematian Gajah Mada, angkatan laut Majapahit menduduki Palembang[4], menaklukkan daerah terakhir kerajaan Sriwijaya.
Menurut Kakawin Nagarakretagama pupuh XIII-XV, daerah kekuasaan Majapahit meliputi hampir seluas wilayah Indonesia modern, termasuk daerah-daerah Sumatra di bagian barat dan di bagian timur Maluku serta sebagian Papua (Wanin), dan beberapa negara Asia Tenggara[. Namun demikian, batasan alam dan ekonomi menunjukkan bahwa daerah-daerah kekuasaan tersebut tampaknya tidaklah berada di bawah kekuasaan terpusat Majapahit, tetapi terhubungkan satu sama lain oleh perdagangan yang mungkin berupa monopoli oleh raja. Majapahit juga memiliki hubungan dengan Campa, Kamboja, Siam, Birma bagian selatan, dan Vietnam, dan bahkan mengirim duta-dutanya ke China.

Jatuhnya Majapahit
Sesudah mencapai puncaknya pada abad ke-14, kekuasaan Majapahit berangsur-angsur melemah. Tampaknya terjadi perang saudara (Perang Paregreg) pada tahun 1405-1406, antara Wirabhumi melawan Wikramawardhana. Demikian pula telah terjadi pergantian raja yang dipertengkarkan pada tahun 1450-an, dan pemberontakan besar yang dilancarkan oleh seorang bangsawan pada tahun 1468.
Dalam tradisi Jawa ada sebuah kronogram atau candrasengkala yang berbunyi sirna ilang kretaning bumi. Sengkala ini konon adalah tahun berakhirnya Majapahit dan harus dibaca sebagai 0041, yaitu tahun 1400 Saka, atau 1478 Masehi. Arti sengkala ini adalah “sirna hilanglah kemakmuran bumi”. Namun demikian, yang sebenarnya digambarkan oleh candrasengkala tersebut adalah gugurnya Bre Kertabumi, raja ke-11 Majapahit, oleh Girindrawardhana.
Ketika Majapahit didirikan, pedagang Muslim dan para penyebar agama sudah mulai memasuki nusantara. Pada akhir abad ke-14 dan awal abad ke-15, pengaruh Majapahit di seluruh nusantara mulai berkurang. Pada saat bersamaan, sebuah kerajaan perdagangan baru yang berdasarkan agama Islam, yaitu Kesultanan Malaka, mulai muncul di bagian barat nusantara.
Catatan sejarah dari China, Portugis, dan Italia mengindikasikan bahwa telah terjadi perpindahan kekuasaan Majapahit dari tangan penguasa Hindu ke tangan Adipati Unus, penguasa dari Kesultanan Demak, antara tahun 1518 dan 1521 M.

Kebudayaan
Ibu kota Majapahit di Trowulan merupakan kota besar dan terkenal dengan perayaan besar keagamaan yang diselenggarakan setiap tahun. Agama Buddha, Siwa, dan Waisnawa (pemuja Wisnu) dipeluk oleh penduduk Majapahit, dan raja dianggap sekaligus titisan Buddha, Siwa, maupun Wisnu. Nagarakertagama tidak menyebut keberadaan Islam, namun tampaknya ada anggota keluarga istana yang beragama Islam pada waktu itu.

Walaupun batu bata telah digunakan dalam candi pada masa sebelumnya, arsitek Majapahitlah yang paling ahli menggunakannya. Candi-candi Majapahit berkualitas baik secara geometris dengan memanfaatkan getah pohon anggur dan gula merah sebagai perekat batu bata. Contoh candi Majapahit yang masih dapat ditemui sekarang adalah Candi Tikus dan Candi Bajangratu di Trowulan, Mojokerto.

Ekonomi
Majapahit merupakan negara agraris dan sekaligus negara perdagangan. Majapahit memiliki pejabat sendiri untuk mengurusi pedagang dari India dan Tiongkok yang menetap di ibu kota kerajaan maupun berbagai tempat lain di wilayah Majapahit di Jawa.

Gobog, uang kerajaan majapahit.

Menurut catatan Wang Ta-yuan, pedagang Tiongkok, komoditas ekspor Jawa pada saat itu ialah lada, garam, kain, dan burung kakak tua, sedangkan komoditas impornya adalah mutiara, emas, perak, sutra, barang keramik, dan barang dari besi. Mata uangnya dibuat dari campuran perak, timah putih, timah hitam, dan tembaga. Selain itu, catatan Odorico da Pordenone, biarawan Katolik Roma dari Italia yang mengunjungi Jawa pada tahun 1321, menyebutkan bahwa istana raja Jawa penuh dengan perhiasan emas, perak, dan permata.

Struktur pemerintahan
Majapahit memiliki struktur pemerintahan dan susunan birokrasi yang teratur pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, dan tampaknya struktur dan birokrasi tersebut tidak banyak berubah selama perkembangan sejarahnya. Raja dianggap sebagai penjelmaan dewa di dunia dan ia memegang otoritas politik tertinggi.

Aparat Birokrasi
Raja dibantu oleh sejumlah pejabat birokrasi dalam melaksanakan pemerintahan, dengan para putra dan kerabat dekat raja memiliki kedudukan tinggi. Perintah raja biasanya diturunkan kepada pejabat-pejabat di bawahnya, antara lain yaitu:
• Rakryan Mahamantri Katrini, biasanya dijabat putra-putra raja
• Rakryan Mantri ri Pakira-kiran, dewan menteri yang melaksanakan pemerintahan
• Dharmmadhyaksa, para pejabat hukum keagamaan
• Dharmma-upapatti, para pejabat keagamaan

Dalam Rakryan Mantri ri Pakira-kiran terdapat seorang pejabat yang terpenting yaitu Rakryan Mapatih atau Patih Hamangkubhumi. Pejabat ini dapat dikatakan sebagai perdana menteri yang bersama-sama raja dapat ikut melaksanakan kebijaksanaan pemerintahan. Selain itu, terdapat pula semacam dewan pertimbangan kerajaan yang anggotanya para sanak saudara raja, yang disebut Bhattara Saptaprabhu.

Pembagian wilayah
Di bawah raja Majapahit terdapat pula sejumlah raja daerah, yang disebut Paduka Bhattara. Mereka biasanya merupakan saudara atau kerabat dekat raja dan bertugas dalam mengumpulkan penghasilan kerajaan, penyerahan upeti, dan pertahanan kerajaan di wilayahnya masing-masing. Dalam Prasasti Wingun Pitu (1447 M) disebutkan bahwa pemerintahan Majapahit dibagi menjadi 14 daerah bawahan, yang dipimpin oleh seseorang yang bergelar Bhre. Daerah-daerah bawahan tersebut yaitu:

Daha
Jagaraga
Kabalan Kahuripan
Keling
Kelinggapura Kembang Jenar
Matahun
Pajang Singhapura
Tanjungpura
Tumapel Wengker
Wirabumi


Raja-raja Majapahit

Berikut adalah daftar penguasa Majapahit. Perhatikan bahwa terdapat periode kekosongan antara pemerintahan Rajasawardhana (penguasa ke-8) dan Girishawardhana yang mungkin diakibatkan oleh krisis suksesi yang memecahkan keluarga kerajaan

Majapahit menjadi dua kelompok.
1. Raden Wijaya, bergelar Kertarajasa Jayawardhana (1293 - 1309)
2. Kalagamet, bergelar Sri Jayanagara (1309 - 1328)
3. Sri Gitarja, bergelar Tribhuwana Wijayatunggadewi (1328 - 1350)
4. Hayam Wuruk, bergelar Sri Rajasanagara (1350 - 1389)
5. Wikramawardhana (1389 - 1429)
6. Suhita (1429 - 1447)
7. Kertawijaya, bergelar Brawijaya I (1447 - 1451)
8. Rajasawardhana, bergelar Brawijaya II (1451 - 1453)
9. Purwawisesa atau Girishawardhana, bergelar Brawijaya III (1456 - 1466)
10. Pandanalas, atau Suraprabhawa, bergelar Brawijaya IV (1466 - 1468)
11. Kertabumi, bergelar Brawijaya V (1468 - 1478)
12. Girindrawardhana, bergelar Brawijaya VI (1478 - 1498)
13. Hudhara, bergelar Brawijaya VII (1498-1518)

Warisan sejarah
Majapahit telah menjadi sumber inspirasi kejayaan masa lalu bagi bangsa Indonesia pada abad-abad berikutnya. Kesultanan-kesultanan Islam Demak, Pajang, dan Mataram berusaha mendapatkan legitimasi atas kekuasaan mereka melalui hubungan ke Majapahit. Demak menyatakan legitimasi keturunannya melalui Kertabhumi; pendirinya, Raden Patah, menurut babad-babad keraton Demak dinyatakan sebagai anak Kertabhumi dan seorang Putri Cina, yang dikirim ke luar istana sebelum ia melahirkan. Penaklukan Mataram atas Wirasaba tahun 1615 yang dipimpin langsung oleh Sultan Agung sendiri memiliki arti penting karena merupakan lokasi ibukota Majapahit. Keraton-keraton Jawa Tengah memiliki tradisi dan silsilah yang berusaha membuktikan hubungan para rajanya dengan keluarga kerajaan Majapahit — sering kali dalam bentuk makam leluhur, yang di Jawa merupakan bukti penting — dan legitimasi dianggap meningkat melalui hubungan tersebut. Bali secara khusus mendapat pengaruh besar dari Majapahit, dan masyarakat Bali menganggap diri mereka penerus sejati kebudayaan Majapahit.
Para penggerak nasionalisme Indonesia modern, termasuk mereka yang terlibat Gerakan Kebangkitan Nasional di awal abad ke-20, telah merujuk pada Majapahit sebagai contoh gemilang masa lalu Indonesia. Majapahit kadang dijadikan acuan batas politik negara Republik Indonesia saat ini. Dalam propaganda yang dijalankan tahun 1920-an, Partai Komunis Indonesia menyampaikan visinya tentang masyarakat tanpa kelas sebagai penjelmaan kembali dari Majapahit yang diromantiskan. Sukarno juga mengangkat Majapahit untuk kepentingan persatuan bangsa, sedangkan Orde Baru menggunakannya untuk kepentingan perluasan dan konsolidasi kekuasaan negara. Sebagaimana Majapahit, negara Indonesia modern meliputi wilayah yang luas dan secara politik berpusat di pulau Jawa.

Majapahit memiliki pengaruh yang nyata dan berkelanjutan dalam bidang arsitektur di Indonesia. Penggambaran bentuk paviliun (pendopo) berbagai bangunan di ibukota Majapahit dalam kitab Negarakretagama telah menjadi inspirasi bagi arsitektur berbagai bangunan keraton di Jawa serta Pura dan kompleks perumahan masyarakat di Bali masa kini.


Candi Tikus menunjukkan kuatnya pengaruh Hindu pada masa kerajaan Majapahit.

Majapahit dalam kesenian modern
Kebesaran kerajaan ini dan berbagai intrik politik yang terjadi pada masa itu menjadi sumber inspirasi tidak henti-hentinya bagi para seniman masa selanjutnya untuk menuangkan kreasinya, terutama di Indonesia. Berikut adalah daftar beberapa karya seni yang berkaitan dengan masa tersebut.

Puisi lama
•Serat Darmagandhul, sebuah kitab yang tidak jelas penulisnya karena menggunakan nama pena Ki Kalamwadi, namun diperkirakan dari masa Kasunanan Surakarta. Kitab ini berkisah tentang hal-hal yang berkaitan dengan perubahan keyakinan orang Majapahit dari agama sinkretis "Budha" ke Islam dan sejumlah ibadah yang perlu dilakukan sebagai umat Islam.

Komik dan strip komik
•Serial "Mahesa Rani" karya Teguh Santosa yang dimuat di Majalah Hai, mengambil latar belakang pada masa keruntuhan Singhasari hingga awal-awal karier Mada (Gajah Mada), adik seperguruan Lubdhaka, seorang rekan Mahesa Rani.
•Komik/Cerita bergambar Imperium Majapahit, karya Jan Mintaraga.
•Komik Majapahit karya R.A. Kosasih
•Strip komik "Panji Koming" karya Dwi Koendoro yang dimuat di surat kabar "Kompas" edisi Minggu, menceritakan kisah sehari-hari seorang warga Majapahit bernama Panji Koming.

Roman/novel sejarah
•Sandyakalaning Majapahit (1933), roman sejarah dengan setting masa keruntuhan Majapahit, karya Sanusi Pane.
•Zaman Gemilang (1938/1950/2000), roman sejarah yang menceritakan akhir masa Singasari, masa Majapahit, dan berakhir pada intrik seputar terbunuhnya Jayanegara, karya Matu Mona/Hasbullah Parinduri.
•Senopati Pamungkas (1986/2003), cerita silat dengan setting runtuhnya Singhasari dan awal berdirinya Majapahit hingga pemerintahan Jayanagara, karya Arswendo Atmowiloto.
•Dyah Pitaloka - Senja di Langit Majapahit (2005), roman karya Hermawan Achsan tentang Dyah Pitaloka Citraresmi, putri dari Kerajaan Sunda yang gugur dalam Peristia Bubat.
•Gajah Mada (2005), sebuah roman sejarah berseri yang mengisahkan kehidupan Gajah Mada dengan ambisinya menguasai Nusantara, karya Langit Kresna Hariadi.
Film/Sinetron
•Tutur Tinular, suatu adaptasi film karya S. Tidjab dari serial sandiwara radio. Kisah ini berlatar belakang Singhasari pada pemerintahan Kertanegara hingga Majapahit pada pemerintahan Jayanagara.
•Saur Sepuh, suatu adaptasi film karya Niki Kosasih dari serial sandiwara radio yang populer pada awal 1990-an. Film ini sebetulnya lebih berfokus pada sejarah Pajajaran namun berkait dengan Majapahit pula.
•Walisongo, sinetron Ramadhan tahun 2003 yang berlatar Majapahit di masa Brawijaya V hingga Kesultanan Demak di zaman Sultan Trenggana.

Kerajaan Pajajaran

Menurut sejarah kota Ciamis pembagian wilayah Sunda-Galuh adalah sebagai berikut:
• Pajajaran berlokasi di Bogor beribukota Pakuan
• Galuh Pakuan beribukota di Kawali
• Galuh Sindula yang berlokasi di Lakbok dan beribukota Medang Gili
• Galuh Rahyang berlokasi di Brebes dengan ibukota Medang Pangramesan
• Galuh Kalangon berlokasi di Roban beribukota Medang Pangramesan
• Galuh Lalean berlokasi di Cilacap beribukota di Medang Kamulan
• Galuh Pataruman berlokasi di Banjarsari beribukota Banjar Pataruman
• Galuh Kalingga berlokasi di Bojong beribukota Karangkamulyan
• Galuh Tanduran berlokasi di Pananjung beribukota Bagolo
• Galuh Kumara berlokasi di Tegal beribukota di Medangkamulyan

Kerajaan Pajajaran adalah sebuah kerajaan Hindu yang diperkirakan beribukotanya di Pakuan (Bogor) di Jawa Barat. Dalam naskah-naskah kuno nusantara, kerajaan ini sering pula disebut dengan nama Negeri Sunda, Pasundan, atau berdasarkan nama ibukotanya yaitu Pakuan Pajajaran. Beberapa catatan menyebutkan bahwa kerajaan ini didirikan tahun 923 oleh Sri Jayabhupati, seperti yang disebutkan dalam prasasti Sanghyang Tapak.
Sejarah kerajaan ini tidak dapat terlepas dari kerajaan-kerajaan pendahulunya di daerah Jawa Barat, yaitu Kerajaan Tarumanagara, Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh, dan Kawali. Hal ini karena pemerintahan Kerajaan Pajajaran merupakan kelanjutan dari kerajaan-kerajaan tersebut. Dari catatan-catatan sejarah yang ada, dapatlah ditelusuri jejak kerajaan ini; antara lain mengenai ibukota Pajajaran yaitu Pakuan. Mengenai raja-raja Kerajaan Pajajaran, terdapat perbedaan urutan antara naskah-naskah Babad Pajajaran, Carita Parahiangan, dan Carita Waruga Guru.

Selain naskah-naskah babad, Kerajaan Pajajaran juga meninggalkan sejumlah jejak peninggalan dari masa lalu, seperti:
• Prasasti Batu Tulis, Bogor
• Prasasti Sanghyang Tapak, Sukabumi
• Prasasti Kawali, Ciamis
• Tugu Perjanjian Portugis (padraõ), Kampung Tugu, Jakarta
• Taman perburuan, yang sekarang menjadi Kebun Raya Bogor.


Batu Tulis, Bogor, Jawa Barat, peninggalan Raja Punawarman

Raja Raja Pajajaran
1. Sri Baduga Maharaja (1482 – 1521)
2. Surawisesa (1521 – 1535)
3. Ratu Dewata (1535 – 1543)
4. Ratu Sakti (1543 – 1551)
5. Raga Mulya (1567 – 1579)

Kerajaan Pajajaran runtuh pada tahun 1579 akibat serangan kerajaan sunda lainnya, yaitu Kesultanan Banten.
Berakhirnya jaman Pajajaran (1482 - 1579), ditandai dengan diboyongnya PALANGKA SRIMAN SRIWACANA (Tempat duduk tempat penobatan tahta) dari Pakuan ke Surasowan di Banten oleh pasukan MAULANA YUSUF.
Batu berukuran 200 x 160 x 20 cm itu terpaksa di boyong ke Banten karena tradisi politik waktu itu "mengharuskan" demikian. Pertama, dengan dirampasnya Palangka tersebut, di Pakuan tidak mungkin lagi dinobatkan raja baru. Kedua, dengan memiliki Palangka itu, Maulana Yusuf merupakan penerus kekuasaan Pajajaran yang "sah" karena buyut perempuannya adalah puteri Sri Baduga Maharaja.
Palangka Sriman Sriwacana sendiri saat ini bisa ditemukan di depan bekas Keraton Surasowan di Banten. Karena mengkilap, orang Banten menyebutnya Watu Gigilang. Kata Gigilang berarti mengkilap atau berseri, sama artinya dengan kata Sriman.
Saat itu diperkirakan terdapat sejumlah punggawa istana yang meninggalkan kraton lalu menetap di daerah Lebak. Mereka menerapkan tata cara kehidupan lama yang ketat, dan sekarang mereka dikenal sebagai orang Baduy.

Kerajaan Mataram Kuno

Kerajaan Mataram (Hindu-Buddha), sering disebut dengan Kerajaan Mataram Kuna sebagai pembeda dengan Mataram Baru atau Kesultanan Mataram (Islam), adalah suatu kerajaan yang berkuasa di Jawa Tengah bagian selatan antara abad ke-8 dan abad ke-10. Kerajaan Mataram terdiri dari dua dinasti, yakni Wangsa Sanjaya dan Wangsa Syailendra. Wangsa Sanjaya yang bercorak Hindu didirikan oleh Sanjaya pada tahun 732. Beberapa saat kemudian, Wangsa Syailendra yang bercorak Buddha Mahayana didirikan oleh Bhanu pada tahun 752. Kedua wangsa ini berkuasa berdampingan secara damai. Nama Mataram sendiri pertama kali disebut pada prasasti yang ditulis di masa raja Balitung.


Peta Kerajaan Mataram

Wangsa Syailendra
Wangsa Syailendra diduga berasal dari daratan Indocina (sekarang Thailand dan Kamboja). Wangsa ini bercorak Buddha Mahayana, didirikan oleh Bhanu pada tahun 752. Pada awal era Mataram Kuno, Wangsa Syailendra cukup dominan dibanding Wangsa Sanjaya. Pada masa pemerintahan raja Indra (782-812), Syailendra mengadakan ekspedisi perdagangan ke Sriwijaya. Ia juga melakukan perkawinan politik: puteranya, Smaratungga, dinikahkan dengan Dewi Tara, puteri raja Sriwijaya. Pada tahun 790, Syailendra menyerang dan mengalahkan Chenla (Kamboja), kemudian sempat berkuasa di sana selama beberapa tahun. Peninggalan terbesar Wangsa Syailendra adalah Candi Borobudur yang selesai dibangun pada masa pemerintahan raja Smaratungga (812-833).


Wangsa Sanjaya
Wangsa Sanjaya didirikan oleh Raja Sanjaya/ Rakryan Jamri/Prabu Harisdama, cicit Wretikandayun, raja kerajaan Galuh pertama. Pada saat menjadi penguasa Kerajaan Sunda ia dikenal dengan nama Prabu Harisdarma dan kemudian setelah menguasai Kerajaan Galuh ia lebih dikenal dengan Sanjaya.
Ibu dari Sanjaya adalah SANAHA, cucu Maharani SIMA dari Kalingga, di Jepara.
Ayah dari Sanjaya adalah Bratasenawa/SENA/SANNA, Raja Galuh ketiga. Sena adalah cucu Wretikandayun dari putera bungsunya, Mandiminyak, raja Galuh kedua (702-709 M). Sena di tahun 716 M dilengser dari takhta Galuh oleh PURBASORA.
Purbasora dan Sena sebenarnya adalah saudara satu ibu, tapi lain ayah. Sena dan keluarganya menyelamatkan diri ke Pakuan, pusat kerajaan Sunda, dan meminta pertolongan pada Raja Tarusbawa. Ironis sekali, Wretikandayun, kakek Sena, sebelumnya menuntut Tarusbawa untuk memisahkan Kerajaan Galuh dari Tarumanagara, sehingga kerajaan Tarumanagara terpecah dua menjadi kerajaan Sunda dan kerajaan Galuh'
Di kemudian hari Sanjaya yang adalah penerus Kerajaan Galuh yang sah, menyerang Galuh dengan bantuan Tarusbawa untuk melengser Purbasora. Setelah itu ia menjadi raja Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh (723 - 732M), sehingga bekas wilayah kekuasaan Tarumanagara dapat disatukan kembali dalam satu kerajaan, yaitu Kerajaan Sunda Galuh.
Sebagai ahli waris Kalingga Sanjaya kemudian juga menjadi penguasa Kalingga Utara yang disebut Bumi Mataram pada 732 M[rujukan?]. Dengan kata lain, Sanjaya adalah penguasa Sunda, Galuh dan Kalingga/Kerajaan Mataram (Hindu). Pada masa ini telah terbentuk semacam ikatan kekerabatan di antara kerajaan-kerajaan tersebut. Hal ini memengaruhi berbagai keputusan politik pada masa-masa selanjutnya (misalnya saat penaklukan Nusantara oleh Majapahit).
Kekuasaan di Jawa Barat lalu diserahkan kepada putera Sanjaya dari Tejakencana, putri Raja Tarusbawa dari kerajaan Sunda, yaitu Tamperan atau Rakryan Panaraban sedangkan penerus Sanjaya di Kerajaan Mataram adalah Rakai Panangkaran, putera Sanjaya dari Sudiwara, puteri Dewasinga raja Kalingga Selatan atau Bumi Sambara. Jadi Rakai Panangkaran dan Rakeyan Panaraban/Tamperan adalah saudara seayah lain ibu.
Pemimpin Mataram selanjutnya berturut-turut adalah: Rakai Panunggalan, Rakai Warak, dan Rakai Garung. Rakai Garung memiliki anak yaitu Rakai Pikatan.
Rakai Pikatan, yang waktu itu menjadi pangeran Wangsa Sanjaya, menikah dengan Pramodhawardhani (833-856), puteri raja Wangsa Syailendara Samaratungga. Sejak itu pengaruh Sanjaya yang bercorak Hindu mulai dominan di Mataram, menggantikan Agama Buddha. Rakai Pikatan bahkan mendepak Raja Balaputradewa (putera Samaratungga dan Dewi Tara). Tahun 850, era Wangsa Syailendra berakhir yang ditandai dengan larinya Balaputradewa ke Sriwijaya.
Pada tahun 910, Raja Tulodong mendirikan Candi Prambanan. Prambanan merupakan kompleks candi Hindu terbesar di Asia Tenggara. Pada masa ini, ditulis karya sastra Ramayana dalam Bahasa Kawi. Tahun 928, Raja Mpu Sindok memindahkan istana Kerajaan Mataram dari Jawa Tengah ke Jawa Timur (Medang). Perpindahan ini diduga akibat letusan Gunung Merapi, atau mendapat serangan dari Sriwijaya.

Dara Jingga
Di tahun 1288, Kerajaan Dharmasraya, termasuk Kerajaan Sriwijaya, menjadi taklukan Kerajaan Singhasari di era Raja Kertanegara, dengan mengirimkan Adwaya Brahman dan Senopati Mahesa Anabrang, dalam ekspedisi Pamalayu 1 dan 2. Sebagai tanda persahabatan, Dara Jingga menikah dengan Adwaya Brahman dari Kerajaan Singasari tersebut. Mereka memiliki putra yang bernama Adityawarman, yang di kemudian hari mendirikan Kerajaan Pagaruyung, dan sekaligus menjadi penerus kakeknya, Mauliwarmadhewa sebagai penguasa Kerajaan Dharmasraya berikut jajahannya, termasuk eks Kerajaan Sriwijaya di Palembang. Anak dari Adityawarman, yaitu Ananggawarman, menjadi penguasa Palembang di kemudian hari. Sedangkan Dara Jingga dikenal sebagai Bundo Kandung/Bundo Kanduang oleh masyarakat Minangkabau.

Dara Petak
Di tahun 1293, Mahesa Anabrang beserta Dara Jingga dan anaknya, Adityawarman, kembali ke Pulau Jawa. Dara Petak ikut dalam rombongan tersebut. Setelah tiba di Pulau Jawa ternyata Kerajaan Singasari telah musnah, dan sebagai penerusnya adalah Kerajaan Majapahit. Oleh karena itu Dara Petak dipersembahkan kepada Raden Wijaya, yang kemudian memberikan keturunan Raden Kalagemet yang bergelar Sri Jayanegara setelah menjadi Raja Majapahit kedua.

Kerajaan Sunda

Karajaan Sunda (669-1579 M), menurut naskah Wangsakerta merupakan kerajaan yang berdiri menggantikan kerajaan Tarumanagara. Kerajaan Sunda didirikan oleh Tarusbawa pada tahun 591 Caka Sunda (669 M). Menurut sumber sejarah primer yang berasal dari abad ke-16, kerajaan ini merupakan suatu kerajaan yang meliputi wilayah yang sekarang menjadi Provinsi Banten, Jakarta, Provinsi Jawa Barat , dan bagian barat Provinsi Jawa Tengah. Berdasarkan naskah kuno primer Bujangga Manik (yang menceriterakan perjalanan Prabu Bujangga Manik, seorang pendeta Hindu Sunda yang mengunjungi tempat-tempat suci agama Hindu di pulau Jawa dan Bali pada awal abad ke-16), yang saat ini disimpan pada Perpustakaan Boedlian, Oxford University, Inggris sejak tahun 1627, batas kerajaan Sunda di sebelah timur adalah sungai Cipamali (yang saat ini sering disebut sebagai kali Brebes) dan sungai Ciserayu (yang saat ini disebut Kali Serayu) di Provinsi Jawa Tengah.
Tome Pires (1513) dalam catatan perjalanannya, Summa Oriental (1513 – 1515), menyebutkan batas wilayah kerajaan Sunda di sebelah timur sebagai berikut:

Sementara orang menegaskan bahwa kerajaan Sunda meliputi setengah pulau Jawa. Sebagian orang lainnya berkata bahwa kerajaan Sunda mencakup sepertiga pulau Jawa ditambah seperdelapannya lagi. Katanya, keliling pulau Sunda tiga ratus legoa. Ujungnya adalah Cimanuk.

menurut naskah Wangsakerta, wilayah kerajaan Sunda mencakup juga daerah yang saat ini menjadi Provinsi Lampung melalui pernikahan antar keluarga kerajaan Sunda dan Lampung. Lampung dipisahkan dari bagian lain kerajaan Sunda oleh Selat Sunda.

Hubungan Kerajaan Sunda dengan Eropa
Kerajaan Sunda sudah lama menjalin hubungan dagang dengan bangsa Eropa saperti Inggris, Perancis dan Portugis. Kerajaan Sunda malah pernah menjalin hubungan politik dengan bangsa Portugis. Dalam tahun 1522, kerajaan Sunda menandatangani perjanjian Sunda-Portugis dimana dalam perjanjian tersebut Portugis dibolehkan membangun benteng dan gudang di pelabuhan Sunda. Sebagai imbalannya, Portugis diharuskan memberi bantuan militer kepada kerajaan Sunda dalam menghadapi serangan dari Demak dan Cirebon yang memisahkan diri dari kerajaan Sunda.
Sejarah
Sebelum berdiri sebagai kerajaan yang mandiri, Sunda merupakan bawahan Tarumanagara. Raja Tarumanagara yang terakhir, Sri Maharaja Linggawarman Atmahariwangsa Panunggalan Tirthabumi (memerintah hanya selama tiga tahun, 666-669 M), menikah dengan Déwi Ganggasari dari Indraprahasta. Dari Ganggasari, beliau memiliki dua anak, yang keduanya perempuan. Déwi Manasih, putri sulungnya, menikah dengan Tarusbawa dari Sunda, sedangkan yang kedua, Sobakancana, menikah dengan Dapuntahyang Sri Janayasa, yang selanjutnya mendirikan kerajaan Sriwijaya. Setelah Linggawarman meninggal, kekuasaan Tarumanagara turun kepada menantunya, Tarusbawa. Hal ini menyebabkan penguasa Galuh, Wretikandayun (612-702) memberontak, melepaskan diri dari Tarumanagara, serta mendirikan Galuh yang mandiri. dari pihak Tarumanagara sendiri, Tarusbawa juga menginginkan melanjutkan kerajaan Tarumanagara. Tarusbawa selanjutnya memindahkan kekuasaannya ke Sunda, sedangkan Tarumanagara diubah menjadi bawahannya. Beliau dinobatkan sebagai raja Sunda pada hari Radite Pon, 9 Suklapaksa, bulan Yista, tahun 519 Saka (kira-kira 18 Mei 669 M). Sunda dan Galuh ini berbatasan, dengan batas kerajaanya yaitu sungai Citarum (Sunda di sebelah barat, Galuh di sebelah timur).

Kerajaan kembar
Putera Tarusbawa yang terbesar, Rarkyan Sundasambawa, wafat saat masih muda, meninggalkan seorang anak perempuan, Nay Sekarkancana. Cucu Tarusbawa ini lantas dinikahi oleh Rahyang Sanjaya dari Galuh, sampai mempunyai seorang putera, Rahyang Tamperan. Saat Tarusbawa meninggal (tahun 723), kekuasaan Sunda jatuh ke Sanjaya, yang di tahun itu juga berhasil merebut kekuasaan Galuh dari Rahyang Purbasora (yang merebut kekuasaan Galuh dari ayahnya, Bratasenawa/Rahyang Séna). Oleh karena itu, di tangan Sanjaya, Sunda dan Galuh bersatu kembali. Untuk meneruskan kekuasaan ayahnya yang menikah dengan puteri raja Keling (Kalingga), tahun 732 Sanjaya menyerahkan kekuasaan Sunda-Galuh ke puteranya, Tamperan. Di Keling, Sanjaya memegang kekuasaan selama 22 tahun (732-754), yang kemudian diganti oleh puteranya dari Déwi Sudiwara, Rarkyan Panangkaran.
Rahyang Tamperan berkuasa di Sunda-Galuh selama tujuh tahun (732-739), lalu membagi kekuasaan pada dua puteranya: Sang Manarah (dalam carita rakyat disebut Ciung Wanara) di Galuh serta Sang Banga (Hariang Banga) di Sunda. Sang Banga (Prabhu Kertabhuwana Yasawiguna Hajimulya) menjadi raja selama 27 tahun (739-766), tapi hanya menguasai Sunda dari tahun 759.

Dari Déwi Kancanasari, keturunan Demunawan dari Saunggalah, Sang Banga mempunyai putera, bernama Rarkyan Medang, yang kemudian meneruskan kekuasaanya di Sunda selama 17 tahun (766-783) dengan gelar Prabhu Hulukujang. Karena anaknya perempuan, Rakryan Medang mewariskan kekuasaanya kepada menantunya, Rakryan Hujungkulon atau Prabhu Gilingwesi (dari Galuh, putera Sang Mansiri), yang menguasai Sunda selama 12 tahun (783-795). Karena Rakryan Hujungkulon inipun hanya mempunyai anak perempuan, maka kekuasaan Sunda lantas jatuh ke menantunya, Rakryan Diwus (dengan gelar Prabu Pucukbhumi Dharmeswara) yang berkuasa selama 24 tahun (795-819). Dari Rakryan Diwus, kekuasaan Sunda jatuh ke puteranya, Rakryan Wuwus, yang menikah dengan putera dari Sang Welengan (raja Galuh, 806-813). Kekuasaan Galuh juga jatuh kepadanya saat saudara iparnya, Sang Prabhu Linggabhumi (813-842), meninggal dunia. Kekuasaan Sunda-Galuh dipegang oleh Rakryan Wuwus (dengan gelar Prabhu Gajahkulon) sampai ia wafat tahun 891.
Sepeninggal Rakryan Wuwus, kekuasaan Sunda-Galuh jatuh ke adik iparnya dari Galuh, Arya Kadatwan. Hanya saja, karena tidak disukai oleh para pembesar dari Sunda, ia dibunuh tahun 895, sedangkan kekuasaannya diturunkan ke putranya, Rakryan Windusakti. Kekuasaan ini lantas diturunkan pada putera sulungnya, Rakryan Kamuninggading (913). Rakryan Kamuninggading menguasai Sunda-Galuh hanya tiga tahun, sebab kemudian direbut oleh adikna, Rakryan Jayagiri (916). Rakryan Jayagiri berkuasa selama 28 tahun, kemudian diwariskan kepada menantunya, Rakryan Watuagung, tahun 942. Melanjutkan dendam orangtuanya, Rakryan Watuagung direbut kekuasaannya oleh keponakannya (putera Kamuninggading), Sang Limburkancana (954-964). Dari Limburkancana, kekuasaan Sunda-Galuh diwariskan oleh putera sulungnya, Rakryan Sundasambawa (964-973). Karena tidak mempunyai putera dari Sundasambawa, kekuasaan tersebut jatuh ke adik iparnya, Rakryan Jayagiri (973-989).
Rakryan Jayagiri mewariskan kekuasaannya ka puteranya, Rakryan Gendang (989-1012), dilanjutkan oleh cucunya, Prabhu Déwasanghyang (1012-1019). Dari Déwasanghyang, kekuasaan diwariskan kepada puteranya, lalu ke cucunya yang membuat prasasti Cibadak, Sri Jayabhupati (1030-1042). Sri Jayabhupati adalah menantu dari Dharmawangsa Teguh dari Jawa, mertua raja Erlangga (1019-1042).

Dari Sri Jayabhupati, kekuasaan diwariskan kepada putranya, Dharmaraja (1042-1064), lalu ke cucu menantunya, Prabhu Langlangbhumi ((1064-1154). Prabu Langlangbhumi dilanjutkan oleh putranya, Rakryan Jayagiri (1154-1156), lantas oleh cucunya, Prabhu Dharmakusuma (1156-1175). Dari Prabu Dharmakusuma, kekuasaan Sunda-Galuh diwariskan kepada putranya, Prabhu Guru Dharmasiksa, yang memerintah selama 122 tahun (1175-1297). Dharmasiksa memimpin Sunda-Galuh dari Saunggalah selama 12 tahun, tapi kemudian memindahkan pusat pemerintahan kepada Pakuan Pajajaran, kembali lagi ke tempat awal moyangnya (Tarusbawa) memimpin kerajaan Sunda.
Sepeninggal Dharmasiksa, kekuasaan Sunda-Galuh turun ke putranya yang terbesar, Rakryan Saunggalah (Prabhu Ragasuci), yang berkuasa selama enam tahun (1297-1303). Prabhu Ragasuci kemudian diganti oleh putranya, Prabhu Citraganda, yang berkuasa selama delapan tahun(1303-1311), kemudian oleh keturunannya lagi, Prabu Linggadéwata (1311-1333). Karena hanya mempunyai anak perempuan, Linggadéwata menurunkan kekuasaannya ke menantunya, Prabu Ajiguna Linggawisésa (1333-1340), kemudian ke Prabu Ragamulya Luhurprabawa (1340-1350). Dari Prabu Ragamulya, kekuasaan diwariskan ke putranya, Prabu Maharaja Linggabuanawisésa (1350-1357), yang di ujung kekuasaannya gugur di Bubat (baca Perang Bubat). Karena saat kejadian di Bubat, putranya -- Niskalawastukancana -- masih kecil, kekuasaan Sunda sementara dipegang oleh Patih Mangkubumi Sang Prabu Bunisora (1357-1371).
Sapeninggal Prabu Bunisora, kekuasaan kembali lagi ke putra Linggabuana, Niskalawastukancana, yang kemudian memimpin selama 104 tahun (1371-1475). Dari isteri pertama, Nay Ratna Sarkati, ia mempunyai putera Sang Haliwungan (Prabu Susuktunggal), yang diberi kekuasaan bawahan di daerah sebelah barat Citarum (daerah asal Sunda). Prabu Susuktunggal yang berkuasa dari Pakuan Pajajaran, membangun pusat pemerintahan ini dengan mendirikan keraton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati. Pemerintahannya terbilang lama (1382-1482), sebab sudah dimulai saat ayahnya masih berkuasa di daerah timur.
Dari Nay Ratna Mayangsari, istrinya yang kedua, ia mempunyai putera Ningratkancana (Prabu Déwaniskala), yang meneruskan kekuasaan ayahnya di daerah Galuh (1475-1482).
Susuktunggal dan Ningratkancana menyatukan ahli warisnya dengan menikahkan Jayadéwata (putra Ningratkancana) dengan Ambetkasih (putra Susuktunggal). Tahun 1482, kekuasaan Sunda dan Galuh disatukan lagi oleh Jayadéwata (yang bergelar Sri Baduga Maharaja). Sapeninggal Jayadéwata, kekuasaan Sunda-Galuh turun ke putranya, Prabu Surawisésa (1521-1535), kemudian Prabu Déwatabuanawisésa (1535-1543), Prabu Sakti (1543-1551), Prabu Nilakéndra (1551-1567), serta Prabu Ragamulya atau Prabu Suryakancana (1567-1579). Prabu Suryakancana ini merupakan pemimpin kerajaan Sunda-Galuh yang terakhir, sebab setelah beberapa kali diserang oleh pasukan dari Kesultanan Banten, di tahun 1579 kekuasaannya runtuh.

Raja-raja Kerajaan Sunda
Di bawah ini deretan raja-raja yang pernah memimpin Kerajaan Sunda menurut naskah Pangéran Wangsakerta (waktu berkuasa dalam tahun Masehi):
1. Tarusbawa (minantu Linggawarman, 669 - 723)
2. Harisdarma, atawa Sanjaya (menantu Tarusbawa, 723 - 732)
3. Tamperan Barmawijaya (732 - 739)
4. Rakeyan Banga (739 - 766)
5. Rakeyan Medang Prabu Hulukujang (766 - 783)
6. Prabu Gilingwesi (menantu Rakeyan Medang Prabu Hulukujang, 783 - 795)
7. Pucukbumi Darmeswara (menantu Prabu Gilingwesi, 795 - 819)
8. Rakeyan Wuwus Prabu Gajah Kulon (819 - 891)
9. Prabu Darmaraksa (adik ipar Rakeyan Wuwus, 891 - 895)
10. Windusakti Prabu Déwageng (895 - 913)
11. Rakeyan Kamuning Gading Prabu Pucukwesi (913 - 916)
12. Rakeyan Jayagiri (menantu Rakeyan Kamuning Gading, 916 - 942)
13. Atmayadarma Hariwangsa (942 - 954)
14. Limbur Kancana (putera Rakeyan Kamuning Gading, 954 - 964)
15. Munding Ganawirya (964 - 973)
16. Rakeyan Wulung Gadung (973 - 989)
17. Brajawisésa (989 - 1012)
18. Déwa Sanghyang (1012 - 1019)
19. Sanghyang Ageng (1019 - 1030)
20. Sri Jayabupati (Detya Maharaja, 1030 - 1042)
21. Darmaraja (Sang Mokténg Winduraja, 1042 - 1065)
22. Langlangbumi (Sang Mokténg Kerta, 1065 - 1155)
23. Rakeyan Jayagiri Prabu Ménakluhur (1155 - 1157)
24. Darmakusuma (Sang Mokténg Winduraja, 1157 - 1175)
25. Darmasiksa Prabu Sanghyang Wisnu (1175 - 1297)
26. Ragasuci (Sang Mokténg Taman, 1297 - 1303)
27. Citraganda (Sang Mokténg Tanjung, 1303 - 1311)
28. Prabu Linggadéwata (1311-1333)
29. Prabu Ajiguna Linggawisésa (1333-1340)
30. Prabu Ragamulya Luhurprabawa (1340-1350)
31. Prabu Maharaja Linggabuanawisésa (yang gugur dalam Perang Bubat, 1350-1357)
32. Prabu Bunisora (1357-1371)
33. Prabu Niskalawastukancana (1371-1475)
34. Prabu Susuktunggal (1475-1482)
35. Jayadéwata (Sri Baduga Maharaja, 1482-1521)
36. Prabu Surawisésa (1521-1535)
37. Prabu Déwatabuanawisésa (1535-1543)
38. Prabu Sakti (1543-1551)
39. Prabu Nilakéndra (1551-1567)
40. Prabu Ragamulya atau Prabu Suryakancana (1567-1579)



Kerajaan Sriwijaya

Kerajaan Sriwijaya dikenal sebagai kerajaan maritim yang pernah berdiri secara independen di wilayah Kepulauan Nusantara bagian barat dari abad ke-7 (bahkan mungkin sebelumnya) hingga abad ke-12. Setelah didahului serbuan dari Kerajaan Chola dari India Selatan dan Kerajaan Singasari dari Jawa yang melemahkan kekuatan militernya, Sriwijaya menjadi kerajaan taklukan tetangganya, Kerajaan Melayu Jambi dan bertahan hingga berdirinya Kerajaan Majapahit, sebelum akhirnya benar-benar runtuh pada abad ke-14. Pusat pemerintahannya kemungkinan besar di sekitar Palembang, Sumatra, meskipun ada pendapat lain yang menyebutkan Ligor di Semenanjung Malaya sebagai pusatnya.


Peta beberapa kerajaan di Asia Tenggara, termasuk Sriwijaya pada akhir abad ke-12.

Walaupun pada masa kebesarannya diketahui memiliki pengaruh politik, ekonomi, dan budaya yang besar, meliputi Indonesia bagian barat, Semenanjung Malaya, Siam bagian selatan, dan sebagian Filipina, kerajaan ini sama sekali tidak meninggalkan naskah tulisan atau sastra sama sekali, kecuali beberapa prasasti batu atau keping tembaga serta bahasa Melayu di pesisir-pesisir kepulauan Nusantara yang menjadi akar dari bahasa Indonesia. Keberadaannya malah banyak diketahui dari tulisan-tulisan musafir Tiongkok dan Arab. Namun demikian, banyak ditemukan peninggalan-peninggalan berupa benda-benda keramik dan beberapa bangunan yang dibuat dari batu bata.

Raja-Raja Sriwijaya
Berikut ini adalah nama raja-raja Sriwijaya:
Samarawijaya
Sri Bameswara
Jayabaya
Kertajaya

Catatan-catatan mengenai Sriwijaya
Berikut ini adalah beberapa sumber sejarah yang diketahui berkaitan dengan Sriwijaya:
Berbahasa Sanskerta atau Tamil

Prasasti Ligor di Thailand
Prasasti Kanton di Kanton
Prasasti Siwagraha
Prasasti Nalanda di India
Piagam Leiden di India
Prasasti Tanjor
Piagam Grahi
Prasasti Padang Roco
Prasasti Srilangka

Sumber berita Tiongkok :
Kronik dari Dinasti Tang
Kronik Dinasti Sung
Kronik Dinasti Ming
Kronik Perjalanan I Tsing
Kronik Chu-fan-chi oleh Chau Ju-kua
Kronik Tao Chih Lio oleh Wang Ta Yan
Kronik Ling-wai Tai-ta oleh Chou Ku Fei
Kronik Ying-yai Sheng-lan oleh Ma Huan

Prasasti berbahasa Melayu Kuna
Prasasti Kedukan Bukit tanggal 16 Juni 682 Masehi di Palembang
Prasasti Kedukan Bukit
Prasasti Talang Tuo tanggal 23 Maret 684 Masehi di Palembang
Prasasti Talang Tuo
Prasasti Telaga Batu abad ke-7 Masehi di Palembang
Prasasti Telaga Batu
Prasasti Palas Pasemah abad ke-7 Masehi di Lampung Selatan
Prasasti Karang Brahi abad ke-7 Masehi di Jambi
Prasasti Karang Brahi
Prasasti Kota Kapur tanggal 28 Februari 686 Masehi di P. Bangka
Prasasti Kota Kapur
Prasasti Sojomerto abad ke-7 Masehi di Pekalongan - Jawa Tengah

Pengaruh budaya
Kerajaan Sriwijaya banyak dipengaruhi budaya India, pertama oleh budaya agama Hindu dan kemudian diikuti pula oleh agama Buddha. Agama Buddha diperkenalkan di Srivijaya pada tahun 425 Masehi. Sriwijaya merupakan pusat terpenting agama Buddha Mahayana. Raja-raja Sriwijaya menguasai kepulauan Melayu melewati perdagangan dan penaklukkan dari kurun abad ke-7 hingga abad ke-9.
Kerajaan Sriwijaya juga membantu menyebarkan kebudayaan Melayu ke seluruh Sumatra, Semenanjung Melayu, dan pulau Kalimantan bagian Barat.
Pada masa yang sama, agama Islam memasuki Sumatra melalui Aceh yang telah tersebar melalui hubungan dengan pedagang Arab dan India. Pada tahun 1414 pangeran terakhir Sriwijaya, Parameswara, memeluk agama Islam dan berhijrah ke Semenanjung Malaya dan mendirikan Kesultanan Melaka.
Agama Buddha aliran Buddha Hinayana dan Buddha Mahayana disebarkan di pelosok kepulauan nusantara dan Palembang menjadi pusat pembelajaran agama Buddha. Pada tahun 1017, 1025, dan 1068, Sriwijaya telah diserbu raja Chola dari kerajaan Colamandala(India) yang mengakibatkan hancurnya jalur perdagangan. Pada serangan kedua tahun 1025, raja Sri Sanggramawidjaja Tungadewa ditawan. Pada masa itu juga, Sriwijaya telah kehilangan monopoli atas lalu-lintas perdagangan Tiongkok-India. Akibatnya kemegahan Sriwijaya menurun. Kerajaan Singasari yang berada di bawah naungan Sriwijaya melepaskan diri. Pada tahun 1088, Kerajaan Melayu Jambi, yang dahulunya berada di bawah naungan Sriwijaya menjadikan Sriwijaya taklukannya. Kekuatan kerajaan Melayu Jambi berlangsung hingga dua abad sebelum akhirnya melemah. Berita bahwa kerajaan Melayu Jambi takluk kepada Majapahit hingga sekarang masih diragukan kebenarannya. Karena setelah kemundurannya wilayah sumatera bagian selatan merupakan daerah tanpa kekuasaan dan pusat bajak laut Selat Malaka.

Kerajaan Tarumanagara

Pelabuhan Kerajaan Tarumanegara
Sejarah
Bila menilik dari catatan sejarah ataupun prasasti yang ada, tidak ada penjelasan atau catatan yang pasti mengenai siapakah yang pertama kalinya mendirikan kerajaan Tarumanegara. Raja yang pernah berkuasa dan sangat terkenal dalam catatan sejarah adalah Purnawarman. Pada tahun 417 ia memerintahkan penggalian Sungai Gomati dan Candrabaga sepanjang 6112 tombak (sekitar 11 km). Selesai penggalian, sang prabu mengadakan selamatan dengan menyedekahkan 1.000 ekor sapi kepada kaum brahmana.

Prasasti
1.Prasasti Kebon Kopi, dibuat sekitar 400 M (H Kern 1917), ditemukan di perkebunan kopi milik Jonathan Rig, Ciampea, Bogor
2.Prasasti Tugu, ditemukan di Kampung Batutumbu, Desa Tugu, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, sekarang disimpan di museum di Jakarta. Prasasti tersebut isinya menerangkan penggalian Sungai Candrabaga oleh Rajadirajaguru dan penggalian Sungai Gomati oleh Purnawarman pada tahun ke-22 masa pemerintahannya.Penggalian sungai tersebut merupakan gagasan untuk menghindari bencana alam berupa banjir yang sering terjadi pada masa pemerintahan Purnawarman, dan kekeringan yang terjadi pada musim kemarau.
3.Prasasti Munjul atau Prasasti Cidanghiang, ditemukan di aliran Sungai Cidanghiang yang mengalir di Desa Lebak, Kecamatan Munjul, Kabupaten Pandeglang, Banten, berisi pujian kepada Raja Purnawarman.
4.Prasasti Ciaruteun, Ciampea, Bogor
5.Prasasti Muara Cianten, Ciampea, Bogor
6.Prasasti Jambu, Nanggung, Bogor
7.Prasasti Pasir Awi, Citeureup, Bogor

Prasasti Tarumanegara
Salah Satu Prasasti dari kerajaan Tarumanegara, prasasti ini ditemukan di daerah Tugu
Lahan tempat prasasti itu ditemukan berbentuk bukit rendah berpermukaan datar dan diapit tiga batang sungai: Cisadane, Cianten dan Ciaruteun. Sampai abad ke-19, tempat itu masih dilaporkan dengan nama Pasir Muara. Dahulu termasuk bagian tanah swasta Ciampea. Sekarang termasuk wilayah Kecamatan Cibungbulang.
Kampung Muara tempat prasasti Ciaruteun dan Telapak Gajah ditemukan, dahulu merupakan sebuah "kota pelabuhan sungai" yang bandarnya terletak di tepi pertemuan Cisadane dengan Cianten. Sampai abad ke-19 jalur sungai itu masih digunakan untuk angkutan hasil perkebunan kopi. Sekarang masih digunakan oleh pedagang bambu untuk mengangkut barang dagangannya ke daerah hilir.
Prasasti pada zaman ini menggunakan aksara Sunda kuno, yang pada awalnya merupakan perkembangan dari aksara tipe Pallawa Lanjut, yang mengacu pada model aksara Kamboja dengan beberapa cirinya yang masih melekat. Pada zaman ini, aksara tersebut belum mencapai taraf modifikasi bentuk khasnya sebagaimana yang digunakan naskah-naskah (lontar) abad ke-16.

Prasasti Pasir Muara
Di Bogor, prasasti ditemukan di Pasir Muara, di tepi sawah, tidak jauh dari prasasti Telapak Gajah peninggalan Purnawarman. Prasasti itu kini tak berada ditempat asalnya. Dalam prasasti itu dituliskan :
ini sabdakalanda rakryan juru panga-mbat i kawihaji panyca pasagi marsa-n desa barpulihkan haji su-nda
Terjemahannya menurut Bosch:
Ini tanda ucapan Rakryan Juru Pengambat dalam tahun (Saka) kawihaji (8) panca (5) pasagi (4), pemerintahan begara dikembalikan kepada raja Sunda.
Karena angka tahunnya bercorak "sangkala" yang mengikuti ketentuan "angkanam vamato gatih" (angka dibaca dari kanan), maka prasasti tersebut dibuat dalam tahun 458 Saka atau 536 Masehi.

Prasasti Ciaruteun
Prasasti Ciaruteun ditemukan pada aliran Sungai Ciaruteun, seratus meter dari pertemuan sungai tersebut dengan Sungai Cisadane; namun pada tahun 1981 diangkat dan diletakkan di dalam cungkup. Prasasti ini peninggalan Purnawarman, beraksara Palawa, berbahasa Sansekerta. Isinya adalah puisi empat baris, yang berbunyi:
vikkrantasyavanipateh shrimatah purnavarmmanah tarumanagararendrasya vishnoriva padadvayam
Terjemahannya menurut Vogel:
Kedua (jejak) telapak kaki yang seperti (telapak kaki) Wisnu ini kepunyaan raja dunia yang gagah berani yang termashur Purnawarman penguasa Tarumanagara.

Selain itu, ada pula gambar sepasang "pandatala" (jejak kaki), yang menunjukkan tanda kekuasaan &mdash& fungsinya seperti "tanda tangan" pada zaman sekarang. Kehadiran prasasti Purnawarman di kampung itu menunjukkan bahwa daerah itu termasuk kawasan kekuasaannya. Menurut Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara parwa II, sarga 3, halaman 161, di antara bawahan Tarumanagara pada masa pemerintahan Purnawarman terdapat nama "Rajamandala" (raja daerah) Pasir Muhara.

Prasasti Telapak Gajah
Prasasti Telapak Gajah bergambar sepasang telapak kaki gajah yang diberi keterangan satu baris berbentuk puisi berbunyi:
jayavi s halasya tarumendrsaya hastinah airavatabhasya vibhatidam padadavayam
Terjemahannya:
Kedua jejak telapak kaki adalah jejak kaki gajah yang cemerlang seperti Airawata kepunyaan penguasa Tarumanagara yang jaya dan berkuasa.
Menurut mitologi Hindu, Airawata adalah nama gajah tunggangan Batara Indra dewa perang dan penguawa Guntur. Menurut Pustaka Parawatwan i Bhumi Jawadwipa parwa I, sarga 1, gajah perang Purnawarman diberi nama Airawata seperti nama gajah tunggangan Indra. Bahkan diberitakan juga, bendera Kerajaan Tarumanagara berlukiskan rangkaian bunga teratai di atas kepala gajah. Demikian pula mahkota yang dikenakan Purnawarman berukiran sepasang lebah.
Ukiran bendera dan sepasang lebah itu dengan jelas ditatahkan pada prasasti Ciaruteun yang telah memancing perdebatan mengasyikkan di antara para ahli sejarah mengenai makna dan nilai perlambangannya. Ukiran kepala gajah bermahkota teratai ini oleh para ahli diduga sebagai "huruf ikal" yang masih belum terpecahkan bacaaanya sampai sekarang. Demikian pula tentang ukiran sepasang tanda di depan telapak kaki ada yang menduganya sebagai lambang labah-labah, matahari kembar atau kombinasi surya-candra (matahari dan bulan). Keterangan pustaka dari Cirebon tentang bendera Tarumanagara dan ukiran sepasang "bhramara" (lebah) sebagai cap pada mahkota Purnawarman dalam segala "kemudaan" nilainya sebagai sumber sejarah harus diakui kecocokannya dengan lukisan yang terdapat pada prasasti Ciaruteun.

Prasasti Jambu
Di daerah Bogor, masih ada satu lagi prasasti lainnya yaitu prasasti batu peninggalan Tarumanagara yang terletak di puncak Bukit Koleangkak, Desa Pasir Gintung, Kecamatan Leuwiliang. Pada bukit ini mengalir (sungai) Cikasungka. Prasasti inipun berukiran sepasang telapak kaki dan diberi keterangan berbentuk puisi dua baris:
shriman data kertajnyo narapatir - asamo yah pura tarumayam nama shri purnnavarmma pracurarupucara fedyavikyatavammo tasyedam - padavimbadavyam arnagarotsadane nitya-dksham bhaktanam yangdripanam - bhavati sukhahakaram shalyabhutam ripunam.
Terjemahannya menurut Vogel:
Yang termashur serta setia kepada tugasnya ialah raja yang tiada taranya bernama Sri Purnawarman yang memerintah Taruma serta baju perisainya tidak dapat ditembus oleh panah musuh-musuhnya; kepunyaannyalah kedua jejak telapak kaki ini, yang selalu berhasil menghancurkan benteng musuh, yang selalu menghadiahkan jamuan kehormatan (kepada mereka yang setia kepadanya), tetapi merupakan duri bagi musuh-musuhnya.

Naskah Wangsakerta
Penjelasan tentang Tarumanagara cukup jelas di Naskah Wangsakerta. Sayangnya, naskah ini mengundang polemik dan banyak pakar sejarah yang meragukan naskah-naskah ini bisa dijadikan rujukan sejarah.
Pada Naskah Wangsakerta dari Cirebon itu, Tarumanegara didirikan oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman pada tahun 358, yang kemudian digantikan oleh putranya, Dharmayawarman (382-395). Jayasingawarman dipusarakan di tepi kali Gomati, sedangkan putranya di tepi kali Candrabaga.
Maharaja Purnawarman adalah raja Tarumanagara yang ketiga (395-434 M). Ia membangun ibukota kerajaan baru pada tahun 397 yang terletak lebih dekat ke pantai. Dinamainya kota itu Sundapura--pertama kalinya nama "Sunda" digunakan.
Prasasti Pasir Muara yang menyebutkan peristiwa pengembalian pemerintahan kepada Raja Sunda itu dibuat tahun 536 M. Dalam tahun tersebut yang menjadi penguasa Tarumanagara adalah Suryawarman (535 - 561 M) Raja Tarumanagara ke-7. Pustaka Jawadwipa, parwa I, sarga 1 (halaman 80 dan 81) memberikan keterangan bahwa dalam masa pemerintahan Candrawarman (515-535 M), ayah Suryawarman, banyak penguasa daerah yang menerima kembali kekuasaan pemerintahan atas daerahnya sebagai hadiah atas kesetiaannya terhadap Tarumanagara. Ditinjau dari segi ini, maka Suryawarman melakukan hal yang sama sebagai lanjutan politik ayahnya.
Rakeyan Juru Pengambat yang tersurat dalam prasasti Pasir Muara mungkin sekali seorang pejabat tinggi Tarumanagara yang sebelumnya menjadi wakil raja sebagai pimpinan pemerintahan di daerah tersebut. Yang belum jelas adalah mengapa prasasti mengenai pengembalian pemerintahan kepada Raja Sunda itu terdapat di sana? Apakah daerah itu merupakan pusat Kerajaan Sunda atau hanya sebuah tempat penting yang termasuk kawasan Kerajaan Sunda?
Baik sumber-sumber prasasti maupun sumber-sumber Cirebon memberikan keterangan bahwa Purnawarman berhasil menundukkan musuh-musuhnya. Prasasti Munjul di Pandeglang menunjukkan bahwa wilayah kekuasaannya mencakup pula pantai Selat Sunda. Pustaka Nusantara, parwa II sarga 3 (halaman 159 - 162) menyebutkan bahwa di bawah kekuasaan Purnawarman terdapat 48 raja daerah yang membentang dari Salakanagara atau Rajatapura (di daerah Teluk Lada Pandeglang) sampai ke Purwalingga (sekarang Purbolinggo) di Jawa Tengah. Secara tradisional Cipamali (Kali Brebes) memang dianggap batas kekuasaan raja-raja penguasa Jawa Barat pada masa silam.
Kehadiran Prasasti Purnawarman di Pasir Muara, yang memberitakan Raja Sunda dalam tahun 536 M, merupakan gejala bahwa Ibukota Sundapura telah berubah status menjadi sebuah kerajaan daerah. Hal ini berarti, pusat pemerintahan Tarumanagara telah bergeser ke tempat lain. Contoh serupa dapat dilihat dari kedudukaan Rajatapura atau Salakanagara (kota Perak), yang disebut Argyre oleh Ptolemeus dalam tahun 150 M. Kota ini sampai tahun 362 menjadi pusat pemerintahan Raja-raja Dewawarman (dari Dewawarman I - VIII).
Ketika pusat pemerintahan beralih dari Rajatapura ke Tarumangara, maka Salakanagara berubah status menjadi kerajaan daerah. Jayasingawarman pendiri Tarumanagara adalah menantu Raja Dewawarman VIII. Ia sendiri seorang Maharesi dari Salankayana di India yang mengungsi ke Nusantara karena daerahnya diserang dan ditaklukkan Maharaja Samudragupta dari Kerajaan Magada.
Suryawarman tidak hanya melanjutkan kebijakan politik ayahnya yang memberikan kepercayaan lebih banyak kepada raja daerah untuk mengurus pemerintahan sendiri, melainkan juga mengalihkan perhatiannya ke daerah bagian timur. Dalam tahun 526 M, misalnya, Manikmaya, menantu Suryawarman, mendirikan kerajaan baru di Kendan, daerah Nagreg antara Bandung dan Limbangan, Garut. Putera tokoh Manikmaya ini tinggal bersama kakeknya di ibukota Tarumangara dan kemudian menjadi Panglima Angkatan Perang Tarumanagara. Perkembangan daerah timur menjadi lebih berkembang ketika cicit Manikmaya mendirikan Kerajaan Galuh dalam tahun 612 M.
Tarumanagara sendiri hanya mengalami masa pemerintahan 12 orang raja. Pada tahun 669, Linggawarman, raja Tarumanagara terakhir, digantikan menantunya, Tarusbawa. Linggawarman sendiri mempunyai dua orang puteri, yang sulung bernama Manasih menjadi istri Tarusbawa dari Sunda dan yang kedua bernama Sobakancana menjadi isteri Dapuntahyang Sri Jayanasa pendiri Kerajaan Sriwijaya. Secara otomatis, tahta kekuasaan Tarumanagara jatuh kepada menantunya dari putri sulungnya, yaitu Tarusbawa.
Kekuasaan Tarumanagara berakhir dengan beralihnya tahta kepada Tarusbawa, karena Tarusbawa pribadi lebih menginginkan untuk kembali ke kerajaannya sendiri, yaitu Sunda yang sebelumnya berada dalam kekuasaan Tarumanagara. Atas pengalihan kekuasaan ke Sunda ini, hanya Galuh yang tidak sepakat dan memutuskan untuk berpisah dari Sunda yang mewarisi wilayah Tarumanagara.

Raja-raja Tarumanagara menurut Naskah Wangsakerta
Raja-raja Tarumanegara
1. Jayasingawarman 358-382
2. Dharmayawarman 382-395
3. Purnawarman 395-434
4. Wisnuwarman 434-455
5. Indrawarman 455-515
6. Candrawarman 515-535
7. Suryawarman 535-561
8. Kertawarman 561-628
9. Sudhawarman 628-639
10.Hariwangsawarman 639-640
11.Nagajayawarman 640-666
12.Linggawarman 666-669

Kerajaan Melayu Jambi

Sejarah
Jambi merupakan wilayah yang terkenal dalam literatur kuno. Nama negeri ini sering disebut dalam prasasti-prasasti dan juga berita-berita China. Ini merupakan bukti bahwa, orang Cina telah lama memiliki hubungan dengan Jambi, yang mereka sebut dengan nama Chan-pei. Diperkirakan, telah berdiri tiga kerajaan Melayu Kuno di Jambi, yaitu Koying (abad ke-3 M), Tupo (abad ke-3 M) dan Kantoli (abad ke-5). Seiring perkembangan sejarah, kerajaan-kerajan ini lenyap tanpa banyak meninggalkan jejak sejarah.
Dalam sejarahnya, negeri ini pernah dikuasai oleh beberapa kekuatan besar, mulai dari Sriwijaya, Singosari, Majapahit, Malaka hingga Johor-Riau. Terkenal dan selalu menjadi rebutan merupakan tanda bahwa Jambi sangat penting pada masa dulu. Bahkan, berdasarkan temuan beberapa benda purbakala, Jambi pernah menjadi pusat Kerajaan Sriwijaya.
Setelah Koying, Tupo dan Kantoli runtuh, kemudian berdiri Kerajaan Melayu Jambi. Berita tertua mengenai kerajaan ini berasal dari T’ang-hui-yao yang disusun oleh Wang-p’u pada tahun 961 M, di masa pemerintahan dinasti T’ang dan Hsin T’ang Shu yang disusun pada awal abad ke-7, M di masa pemerintahan dinasti Sung. Diperkirakan, Kerajaan Melayu Jambi telah berdiri sekitar tahun 644/645 M, lebih awal sekitar 25 tahun dari Sriwijaya yang berdiri tahun 670.

Teks Melayu Tertua
Harus diakui bahwa, sejarah tentang Melayu kuno ini masih gelap. Sampai sekarang, data utamanya masih didasarkan pada berita-berita dari negeri Cina, yang terkadang sulit sekali ditafsirkan. Namun, dibandingkan daerah lainnya di Sumatera, data arkeologis yang ditemukan di Jambi merupakan yang terlengkap. Data-data arkeologis tersebut terutama berasal dari abad ke-9 hingga 14 M. Untuk keluar dari kegelapan sejarah tersebut, maka, sejarah mengenai Kerajaan Melayu Jambi berikut ini akan lebih terfokus pada fase pasca abad ke-9, terutama ketika Aditywarman mendirikan Kerajaan Swarnabhumi di daerah ini pada pertengahan abad ke-14 M.
Sebelum bercerita lebih banyak mengenai Aditywarman, ada baiknya tulisan ini diawali dengan pemaparan sejarah leluhur Adityawarman di tanah Melayu ini. Ketika Sriwijaya berdiri, Kerajaan Melayu Jambi menjadi daerah taklukannya. Kemudian, ketika Sriwijaya runtuh akibat serangan Kerajaan Cola dari India pada tahun 1025 M, para bangsawan Sriwijaya banyak yang melarikan diri ke hulu Sungai Batang Hari, dan bergabung dengan Kerajaan Melayu yang memang sudah lebih dulu berdiri, tapi saat itu menjadi daerah taklukannya. Lebih kurang setengah abad kemudian, sekitar tahun 1088 M, keadaan berbalik, Kerajaan Melayu Jambi menaklukkan Sriwijaya yang memang sudah di ambang kehancuran.
Kerajaan Melayu Jambi mulai berkembang lagi, saat itu, namanya adalah Dharmasraya. Sayang sekali, hanya sedikit catatan sejarah mengenai Dharmasraya ini. Rajanya yang bernama Shri Tribhuana Raja Mauliwarmadhewa (1270-1297) menikah dengan Puti Reno Mandi. Dari pernikahan ini, kemudian lahir dua orang putri: Dara Jingga dan Dara Petak
Menjelang akhir abad ke-13, Kartanegara mengirim dua kali ekspedisi, yang kemudian dikenal dengan nama Ekspedisi Pamalayu I dan II. Dalam ekspedisi pertama, Kartanegara berhasil menaklukkan Kerajaan Melayu dan Sriwijaya yang memang sudah lemah. Berdasarkan Babad Jawa versi Mangkunegaran disebutkan bahwa, Kartanegara menaklukkan Jambi pada tahun 1275 M.
Pada tahun 1286 M, Kartanegara mengirimkan sebuah arca Amogapacha ke Kerajaan Dharmasraya. Raja dan rakyat Dharmasraya sangat gembira menerima persembahan dari Kartanegara ini. Sebagai tanda terimakasih Raja Dharmasraya pada Prabu Kartanegara, ia kemudian mengirimkan dua orang putrinya, Dara Jingga dan Dara Petak untuk dibawa ke Singosari. Dara Jingga kemudian menikah dengan Mahesa Anabrang dan melahirkan Aditywarman. Ketika utusan Kartanegara ini kembali ke tanah Jawa, mereka mendapatkan Kerajaan Singosari telah hancur akibat serangan Jayakatwang dan pasukan Kubilai Khan. Sebagai penerus Singosari, muncul Kerajaan Majapahit dengan raja pertama Raden Wijaya. Dara Petak kemudian dipersembahkan kepada Raden Wijaya untuk diperistri. Dari perkawinan ini, kemudian lahir Raden Kalagemet. Ketika Kalagemet menjadi Raja Majapahit menggantikan ayahnya, ia memakai gelar Sri Jayanegara.
Demikianlah, keturunan Dara Petak menjadi Raja, sementara keturunan Dara Jingga, yaitu Aditywarman, menjadi salah seorang pejabat di istana Majapahit. Hingga suatu ketika, tahun 1340 M, Adityawarman dikirim kembali ke Sumatera, negeri leluhurnya, untuk mengurus daerah taklukan Majapahit, Dharmasraya. Namun, sesampainya di Sumatera, ia bukannya menjaga keutuhan wilayah taklukan Majapahit, malah kemudian berusaha untuk melepaskan diri dan mendirikan Kerajaan Swarnabhumi. Wilayahnya adalah daerah warisan Dharmasraya, meliputi wilayah Kerajaan Melayu Kuno dan Sriwijaya. Dengan ini, berarti eksistensi Dharmasraya telah diteruskan oleh kerajaan baru: Swarnabhumi. Pusat kerajaan diperkirakan berada di wilayah Jambi saat ini. Dalam perkembangannya, pusat kerajaan yang dipimpin Aditywarman ini kemudian berpindah ke Pagaruyung, hingga nama kerajaannya kemudian berubah menjadi Kerajaan Pagaruyung, atau dikenal juga dengan Kerajaan Minangkabau. Akibat perpindahan pusat kerajaan ini, Jambi kemudian menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Kerajaan Pagaruyung (Minangkabau). Kejadian ini terjadi sekitar pertengahan abad ke-14.
Ketika Kerajaan Malaka muncul sebagai kekuatan baru di perairan Malaka pada awal abad ke-15, Jambi menjadi bagian wilayah kerajaan ini. Saat itu, Jambi merupakan salah satu bandar dagang yang ramai. Hingga keruntuhan Malaka pada tahun 1511 M di tangan Portugis, Jambi masih menjadi bagian dari Malaka. Tak lama kemudian, muncul Kerajaan Johor-Riau di perairan Malaka sebagai ahli waris Kerajaan Malaka. Lagi-lagi, Jambi menjadi bagian dari kerajaan yang baru berdiri ini.
Jambi memainkan peranan yang sangat penting dalam membantu Johor berperang melawan Portugis di Malaka. Kemudian, memanfaatkan situasi yang sedang tidak stabil di Johor akibat berperang dengan Portugis, Jambi mencoba untuk melepaskan diri. Dalam usaha untuk melepaskan diri ini, sejak tahun 1666 hingga 1673 M, telah terjadi beberapa kali peperangan antara Jambi melawan Johor. Dalam beberapa kali pertempuran tersebut, angkatan perang Jambi selalu mendapat kemenangan. Bahkan, Jambi berhasil menghancurkan ibukota Johor, Batu Sawar. Jambi terbebas dari kekuasaan Johor. Namun, ini ternyata tidak berlangsung lama. Johor kemudian meminta bantuan orang-orang Bugis untuk mengalahkan Jambi. Akhirnya, atas bantuan orang-orang Bugis, Jambi berhasil dikalahkan Johor.

Silsilah
Di masa Kerajaan Dharmasraya, raja yang dikenal hanyalah Shri Tribhuana Raja Mauliwarmadhewa (1270-1297). Sementara raja-raja yang lain, belum didapat data yang lengkap. Di masa Kerajaan Swarnabhumi, rajanya yang paling terkenal adalah Aditywarman. Namun, ketika bergabung dengan Minangkabau, maka silsilah raja yang ada merupakan silsilah raja-raja Minangkabau.

Periode Pemerintahan
Agak rumit memaparkan bagaimana periode pemerintahan berlangsung di Jambi, jika pemerintahan tersebut diandaikan sebuah kerajaan merdeka yang bebas dari pengaruh kekuasaan lain. Berdasarkan sedikit data sejarah yang tersedia, tampaknya Jambi menikmati masa bebas dari pengaruh kerajaan lain hanya di masa Kerajaan Melayu Kuno. Selanjutnya, ketika Sriwijaya berdiri, Jambi menjadi daerah taklukan Sriwijaya, bahkan, menurut beberapa sumber yang, tentu saja masih diperdebatkan, Jambi pernah menjadi pusat pemerintahan Sriwijaya. Ketika Sriwijaya runtuh dan muncul kekuatan Singosari di Jawa, Jambi menjadi daerah taklukan Singosari. Ketika Singosari runtuh dan muncul kemudian Majapahit, Jambi menjadi wilayah taklukan Majapahit.
Dalam perkembangan selanjutnya, Jambi menjadi pusat Kerajaan Swarnabhumi yang didirikan Aditywarman. Ketika pusat kerajaan Adityawarman berpindah ke Pagaruyung, Jambi menjadi bagian dari Kerajaan Minangkabau di Pagaruyung. Ketika Malaka muncul sebagai sebuah kekuatan baru di Selat Malaka, Jambi menjadi bagian dari wilayah Malaka. Malaka runtuh, kemudian muncul Johor. Lagi-lagi, Jambi menjadi bagian dari Kerajaan Johor. Demikianlah, Jambi telah menjadi target ekspansi setiap kerajaan besar yang berdiri di Nusantara ini.

Wilayah Kekuasaan

Wilayah Kerajaan Jambi meliputi daerah sepanjang aliran Sungai Batang Hari yang sekarang menjadi wilayah Propinsi Jambi, yang berbatasan dengan wilayah Sumatera Barat, Riau dan Sumatera Selatan.

Struktur Pemerintahan
Di masa Jambi masih menjadi kerajaan merdeka, kerajaan dipimpin oleh seorang raja. Namun, belum ada kejelasan, apa status pemimpin daerah-daerah di Jambi, selama negeri ini menjadi bagian dari wilayah kerajaan lain.

Kehidupan Sosial Budaya
Beberapa benda arkeologis yang ditemukan di daerah Jambi menunjukkan bahwa, di daerah ini telah berlangsung suatu aktifitas ekonomi yang berpusat di daerah Sungai Batang Hari. Temuan benda-benda keramik juga membuktikan bahwa, di daerah ini, penduduknya telah hidup dengan tingkat budaya yang tinggi. Temuan arca-arca Budha dan candi juga menunjukkan bahwa, orang-orang Jambi merupakan masyarakat yang religius. Ini hanyalah sedikit gambaran mengenai kehidupan di Jambi. Bagaimana sisi sosial budaya masyarakat secara keseluruhan? Sangat sulit untuk menggambarkan secara detil, bagaimana kehidupan sosial budaya ini berlangsung, mengingat data arkeologis yang sangat minim.
Template by : x-template.blogspot.com